Slide 1

Berita PUPR > Dukung Pengelolaan Lingkungan KSPN Danau Toba, Balitbang PUPR serahkan Mesin Pencacah Plastik


Selasa, 15 Mei 2018, Dilihat 82 kali

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi (Puslitbang KPT) melakukan serah terima kelola mesin pencacah limbah plastik kantong kresek kepada Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara pada Sabtu (12/5) bertempat di Ruang Rapat Bupati Humbang Hasundutan. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan dan kelompok masyarakat penggiat lingkungan. Selain pemerintah daerah setempat, turut hadir pula Pemerintah Daerah Kota Medan yang akan menerima secara simbolis satu unit mesin pencacah plastik untuk kebutuhan yang sama.

Setelah diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kota Medan. Dalam kesempatan yang sama, mesin pencacah plastik diserahkan kepada kelompok masyarakat penggiat lingkungan di Kabupaten Humbang Hasundutan dan Bank Sampah Induk Kota Medan yang diwakili oleh Devi Novita Lubis dari Artha Jaya. Rencananya mesin pencacah akan digunakan untuk memproduksi cacahan sampah plastik kresek sebagai bahan campuran aspal, dalam rangka pengelolaan lingkungan di Kawasan Pariwisata Danau Toba.

“Keberadaan mesin ini merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek melalui penerapan Teknologi Aspal Plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” ungkap Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerepan Teknologi, Rezeki Peranginangin yang mewakili kepala Badan Litbang saat memberikan sambutan serah terima kelola mesin pencacah plastik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bahwa limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

Selain manfaat terhadap lingkungan, manfaat teknis yang didapat adalah dapat meningkatkan stabilitas campuran sebesar 40% dan lebih tahan terhadap deformasi serta retak lelah dengan penambahan optimal 4-6% limbah plastik (terhadap kadar aspal) pada campuran beraspal panas. Perhitungan limbah plastik kresek ini digunakan dengan panjang 1 kilometer, lebar 7 meter, dan tebal 5 cm dapat menyerap 3-3,5 ton limbah plastik.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga siap menampung dan membeli plastik yang telah tercacah dan dalam kondisi bersih dengan harga ±Rp. 3.500,00. Hal ini mengingat limbah plastik yang akan digunakan dalam campuran aspal harus dalam bentuk cacahan. Untuk mendapatkan hasil cacahan yang sesuai dengan spesifikasi campuran aspal plastik, maka digunakan Mesin Pencacah Plastik. Penyebaran Mesin Pencacah ini dimulai penyerahannya oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR pada tanggal 28 April 2018 kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kemudian dilanjutkan KSPN Danau Toba, KSPN Borobudur, KSPN Bromo, KSPN Nusa Tenggara Barat, dan KSPN Tana Toraja berdasarkan surat instruksi Dirjen Bina Marga untuk penerapan aspal plastik di 6 KSPN tersebut.

“Pada pelaksanaan kegiatan penerapan Teknologi Aspal Plastik di Sipinsur Bakara oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II Medan diperkirakan dapat menyerap sampah plastik kantong kresek sebesar 12 ton,” imbuh Rezeki.

Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah, Tonny Sihombing menyambut baik pemberian mesin pencacah plastik. “Kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih mendapat bantuan mesin pencacah plastik. Dengan adanya bantuan mesin pencacah plastik yang diproyeksikan hasilnya akan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan aspal campuran plastik dalam pembangunan jalan lingkar Danau Toba diharapkan permasalahan sampah plastik akan berkurang sesuai dengan program nasional presiden yang tertuang dalam Perpres No. 97 Tahun 2017, dan juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat terutama penggiat lingkungan (kelompok masyarakat),” ungkap Dosmar.

Saat ini penanganan sampah di Kabupaten Humbang Hasundutan masih dengan paradigma lama yang hanya bersifat kumpul, angkut dan buang, belum terfokus pada pengolahan dan pembatasan timbulan sampah. Mesin Pencacah Plastik diharapkan dapat bermanfaat dan tepat guna bagi pengurangan sampah plastik di Kabupaten Humbang Hasundutan. Momen ini sekaligus menjadi awal perubahan paradigma pengelolaan sampah di Kabupaten Humbang Hasundutan.