Slide 1

Berita PUPR > Dukung Pengelolaan Lingkungan KSPN Danau Toba, Balitbang serahkan mesin pencacah plastik


Rabu, 04 Juli 2018, Dilihat 135 kali

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Pusat Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT) melakukan Serah Terima Kelola Mesin Pencacah Limbah Plastik Kantong Kresek kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Kamis (28/6) bertempat di TPA Dusun Kebun Kongok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, NTB Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan seperti Dinas Lingkungan Hidup dan kelompok masyarakat. Selain pemerintah daerah setempat, turut hadir pula Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck (2015) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025.

Keberadaan mesin pencacah plastik merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek melalui penerapan Teknologi Aspal Plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” ungkap Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerepan Teknologi, Rezeki Peranginangin yang mewakili kepala Badan Litbang saat memberikan sambutan serah terima kelolamesinpencacahplastik. 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bahwa limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

Selain manfaat terhadap lingkungan, manfaat teknis yang didapat adalah dapat meningkatkan stabilitas campuran sebesar 40% dan lebih tahan terhadap deformasi serta retak lelah dengan penambahan optimal 4-6% limbah plastik (terhadap kadar aspal) pada campuran beraspal panas. Perhitungan limbah plastik kresek ini digunakan dengan panjang 1 kilometer, lebar 7 meter, dan tebal 5 cm dapat menyerap 3-3,5 ton limbah plastik.

Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini diharapkan bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakatuntukmencintailingkungansekaligusmengurangijumlahsampah plastic kreses yang beredar. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani. Uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada tahun 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan, dan Banten.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga siap menampung dan membeli plastik yang telah tercacah dan dalam kondisi bersih dengan harga ±Rp. 3.500,00. Hal ini mengingat limbah plastik yang akan digunakan dalam campuran aspal harus dalam bentuk cacahan. Untuk mendapatkan hasil cacahan yang sesuai dengan spesifikasi campuran aspal plastik, maka digunakan Mesin Pencacah Plastik. Penyebaran Mesin Pencacah ini dimulai penyerahannya oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR pada tanggal 28 April 2018 kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kemudian dilanjutkan KSPN Danau Toba, KSPN Borobudur, KSPN Bromo, KSPN Nusa Tenggara Barat, dan KSPN Tana Toraja berdasarkan surat instruksi Dirjen Bina Marga untuk penerapan aspal plastik di 6 KSPN tersebut.

“Pada pelaksanaan kegiatan penerapan Teknologi Aspal Plastik diRuas Sembalun oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram yang diperkirakan dapat menyerap sampah plastik kantong kresek sebesar 2,7 ton,” imbuh Rezeki.

Kepala Bidang Penataan dan Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Fathoni, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Kota Mataram telah memiliki 8 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akan membutuhkan mesin pencacah plastik pada masing – masing TPA.

“Pilot project Replikasi Penerapan Teknologi Aspal Campuran Plastik yang akan dilaksanakan saat ini sepanjang 1 km dengan sumber dana APBN. Kabupaten dan Kota juga tertarik untuk menerapkan teknologi ini,” ungkap Ahmad Fathoni

img-alt

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Pusat Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT) melakukan Serah Terima Kelola Mesin Pencacah Limbah Plastik Kantong Kresek kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Kamis (28/6) bertempat di TPA Dusun Kebun Kongok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, NTB Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan seperti Dinas Lingkungan Hidup dan kelompok masyarakat. Selain pemerintah daerah setempat, turut hadir pula Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck (2015) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025.

Keberadaan mesin pencacah plastik merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek melalui penerapan Teknologi Aspal Plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” ungkap Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerepan Teknologi, Rezeki Peranginangin yang mewakili kepala Badan Litbang saat memberikan sambutan serah terima kelolamesinpencacahplastik.

 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bahwa limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

Selain manfaat terhadap lingkungan, manfaat teknis yang didapat adalah dapat meningkatkan stabilitas campuran sebesar 40% dan lebih tahan terhadap deformasi serta retak lelah dengan penambahan optimal 4-6% limbah plastik (terhadap kadar aspal) pada campuran beraspal panas. Perhitungan limbah plastik kresek ini digunakan dengan panjang 1 kilometer, lebar 7 meter, dan tebal 5 cm dapat menyerap 3-3,5 ton limbah plastik.

Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini diharapkan bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakatuntukmencintailingkungansekaligusmengurangijumlahsampah plastic kreses yang beredar. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani. Uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada tahun 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan, dan Banten.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga siap menampung dan membeli plastik yang telah tercacah dan dalam kondisi bersih dengan harga ±Rp. 3.500,00. Hal ini mengingat limbah plastik yang akan digunakan dalam campuran aspal harus dalam bentuk cacahan. Untuk mendapatkan hasil cacahan yang sesuai dengan spesifikasi campuran aspal plastik, maka digunakan Mesin Pencacah Plastik. Penyebaran Mesin Pencacah ini dimulai penyerahannya oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR pada tanggal 28 April 2018 kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kemudian dilanjutkan KSPN Danau Toba, KSPN Borobudur, KSPN Bromo, KSPN Nusa Tenggara Barat, dan KSPN Tana Toraja berdasarkan surat instruksi Dirjen Bina Marga untuk penerapan aspal plastik di 6 KSPN tersebut.

“Pada pelaksanaan kegiatan penerapan Teknologi Aspal Plastik diRuas Sembalun oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram yang diperkirakan dapat menyerap sampah plastik kantong kresek sebesar 2,7 ton,” imbuh Rezeki.

Kepala Bidang Penataan dan Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Fathoni, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Kota Mataram telah memiliki 8 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akan membutuhkan mesin pencacah plastik pada masing – masing TPA.

“Pilot project Replikasi Penerapan Teknologi Aspal Campuran Plastik yang akan dilaksanakan saat ini sepanjang 1 km dengan sumber dana APBN. Kabupaten dan Kota juga tertarik untuk menerapkan teknologi ini,” ungkap Ahmad Fathoni

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Pusat Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT) melakukan Serah Terima Kelola Mesin Pencacah Limbah Plastik Kantong Kresek kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Kamis (28/6) bertempat di TPA Dusun Kebun Kongok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, NTB Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan seperti Dinas Lingkungan Hidup dan kelompok masyarakat. Selain pemerintah daerah setempat, turut hadir pula Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck (2015) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025.

Keberadaan mesin pencacah plastik merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek melalui penerapan Teknologi Aspal Plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” ungkap Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerepan Teknologi, Rezeki Peranginangin yang mewakili kepala Badan Litbang saat memberikan sambutan serah terima kelolamesinpencacahplastik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bahwa limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

Selain manfaat terhadap lingkungan, manfaat teknis yang didapat adalah dapat meningkatkan stabilitas campuran sebesar 40% dan lebih tahan terhadap deformasi serta retak lelah dengan penambahan optimal 4-6% limbah plastik (terhadap kadar aspal) pada campuran beraspal panas. Perhitungan limbah plastik kresek ini digunakan dengan panjang 1 kilometer, lebar 7 meter, dan tebal 5 cm dapat menyerap 3-3,5 ton limbah plastik.

Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini diharapkan bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakatuntukmencintailingkungansekaligusmengurangijumlahsampah plastic kreses yang beredar. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani. Uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada tahun 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan, dan Banten.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga siap menampung dan membeli plastik yang telah tercacah dan dalam kondisi bersih dengan harga ±Rp. 3.500,00. Hal ini mengingat limbah plastik yang akan digunakan dalam campuran aspal harus dalam bentuk cacahan. Untuk mendapatkan hasil cacahan yang sesuai dengan spesifikasi campuran aspal plastik, maka digunakan Mesin Pencacah Plastik. Penyebaran Mesin Pencacah ini dimulai penyerahannya oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR pada tanggal 28 April 2018 kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kemudian dilanjutkan KSPN Danau Toba, KSPN Borobudur, KSPN Bromo, KSPN Nusa Tenggara Barat, dan KSPN Tana Toraja berdasarkan surat instruksi Dirjen Bina Marga untuk penerapan aspal plastik di 6 KSPN tersebut.

“Pada pelaksanaan kegiatan penerapan Teknologi Aspal Plastik diRuas Sembalun oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram yang diperkirakan dapat menyerap sampah plastik kantong kresek sebesar 2,7 ton,” imbuh Rezeki.

Kepala Bidang Penataan dan Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Fathoni, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Kota Mataram telah memiliki 8 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akan membutuhkan mesin pencacah plastik pada masing – masing TPA.

“Pilot project Replikasi Penerapan Teknologi Aspal Campuran Plastik yang akan dilaksanakan saat ini sepanjang 1 km dengan sumber dana