Slide 1

Berita PUPR > Sharing Knowledge Para Peneliti dan Perekayasa Balitbang dengan Kepala Balitbang PUPR


Kamis, 12 Juli 2018, Dilihat 155 kali

Untuk lebih mendekatkan dan mempererat hubungan antar peneliti dan perekayasa Balitbang satu sama lain terutama dengan pimpinan tertinggi Badan Penelitian dan Pengembangan Danis H Sumadilaga selaku Kepala Balitbang PUPR, Bagian Kepegawaian Balitbang mengundang para peneliti dan perekayasa dari Pusat-pusat Litbang untuk hadir pada acara yang bertajuk evaluasi jabatan fungsional peneliti dan perekayasa yang di adakan di ruang rapat Balitbang pada hari rabu, 11/07/18.

“Keinginan bertemu untuk ngobrol, diskusi, dengan peneliti dan perekayasa Balitbang sudah lama saya tunggu. Karena kalau saya lihat dan kelompokan tugas litbang itu nomer satu penelitian dan pengembangan, nomer dua kita berbicara proses sebagai penyiapan pedoman, standarisasi dan sebagainya, yang ketiga kita bergerak di avdis teknis, yang nantinya produk kita (Balitbang) bisa dalam bentuk kebijakan, teknologi apakah itu soft teknologi atau hard teknologi”, ungkap Danis mengawali diskusi.

Beliau juga menjelasakan bahwa antara peneliti dan perekayasa secara definisi bisa dibedakan, tapi secara produk sangat sulit, tapi menurut Danis antara keduanya itu tidaklah penting. Danis memberikan gambaran bahwa beberapa pejabat periode sebelumnya ada yang memilih menjadi perekayasa saat ini. “Awalnya mereka sempat kesulitan untuk memilih antara menjadi peneliti atau perekyasa sampai akhirnya mereka lebih memilih menjadi perekayasa. Dari case tersebut dapat diambil poin bahwa pilihan mejadi perekayasa atau peneliti bukan suatu polemik selama ilmu dan keahlianya sangat berguna dan bermanfaat bagi semua” ungkap Danis.

Sekretaris Badan Litbang Herry Vaza yang betindak selaku moderator pada kesempatan tersebut menyampaikan bawa di Balitbang Jabatan Peneliti sangat banyak di banding dengan Jabatan Perekayasa. “Jumlah total peneliti kita saat sebanyak 271 dari jumlah pegawai Balitbang yang hampir 1000 orang dan jumlah perekayasa kurang lebih 67, jadi Balitbang banyaknya di Peneliti sedangkan di Perekayasa sedikit sekali”, ungkapnya.

"Padahal teknologi itu orang perekayasa, yang artinya teknologi di develop atau dikembangkan dan di inovasi oleh perekayasa, jadi perekayasa harusnya lebih banyak lagi. Peneliti bekerja di bidang penelitian yang nantinya mendevelop prototype, kemudain perekayasa menge enggineringi supaya bisa diaplikasikan”, lanjut Herry.

Dari hasil diskusi dan sharing pengalaman antar peneliti dan perekayasa dengan Kepala Badan Litbang, terdapat beberapa poin arahan dari Kepala Badan Litbang dan Sekretaris Badan Litbang antara lain; pertama Balitbang PUPR memiliki tugas yaitu : litbang penelitian dan pengembangan; Proses menghasilkan pedoman standardisasi, serta Advis tekni atau pendampingan. Kedua Teknologi Balitbang PUPR dibagi menjadi Hard Technology dan Soft Technology, jika melihat produknya agak kesulitan membedakan mana yang menjadi tugas peneliti mana yang menjadi tugas perekayasa. Ketiga Jangan sampai meneliti sesuatu pekerjaan syang bukan bagian dari kita. Alangkah baiknya bahkan sudah menjadi keharusan bahwa bagian yang kita (Balitbang) lakukan adalah bagian dari Kementerian PUPR. Arah penelitian harus membantu ke RPJM PUPR, dan Rencana kerja yang mendukung Ditjend SDA, Bina Marga, Cipta Karya dan Ditjen lainnya. keempat pertanyaan presiden tentang apa yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang sebagai titik tolak agar kita tidak ketinggalan terhadap teknologi. Untuk itu, kita perlu memahami bagaimana sejarah teknologi jembatan sampai saat ini. Posisi penelitian sampai saat ini, area apa saja. Misalnya, untuk diskusi jembatan gantung harusnya sudah selesai 10 tahun yang lalu. Begitu juga bidang SDA dan perumahan permukiman. Khususnya perumahan dan permukiman tantangannya dari industri luar. Untuk itu mulailah tulis apa yang anda kerjakan, bagaimana spesifikasinya, dan lain-lain, serta mari kita rumuskan pekerjaan penelitian yang lebih baik. Kelima harus orientasi pada hasil, jangan pernah under estimate peneliti muda, dan jangan over estimate terhadap peneliti utama. Orientasi pada hasil yang kita programkan, lihat roadmad, mulailah dengan cara melihat sejauh mana posisi teknologi tersebut. Pada intinya hanya ada dua apakah ke arah pembangunan baru atau pemeliharaan infrastruktur, baik pada Level operasional maupun level kebijakan.