"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Inovasi Produk CMP Balitbang Meriahkan Kegiatan Kontruksi Indonesia

Badan Penelitian dan Pengembangan turut memeriahkan acara pameran Kontruksi Indonesia yang di gelar di Jakarta Convention Center tanggal 8-10 November 2017. Salah satu alasan dilaksanakannya pameran Konstruksi Indonesia ini adalah bahwa industri bangunan dan konstuksi di Indonesia mengalami perubahan besar dengan tuntutan peraturan baru, lingkungan, waktu dan anggaran yang terus meningkat.

"Kebutuan pembiayaan infrastruktur 2015-2019 sekitar Rp 4.800 triliun. Kemampuan pemerintah melalui APBN dan APBD sekitar 41 persennya, BUMN sekitar 23 persen dan sisanya kita harapkan dari swasta sekitar 36 persen. Namun sampai saat ini, peran sektor swasta belum sampai 36 persen,” kata Danis H. Sumadilaga (Kepala Badan Litbang dan juga Pejabat Pelaksana Tugas Dirjen Bina Konstuksi) saat jumpa pers usai penandatanganan MoU antara Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) dengan Construction Association of Korea (CAK) pada acara Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2017, Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Kepala Badan Litbang (ke empta dari kiri) foto bersama saat pembukaan acara Kontruksi Indonesia   

Pemerintah juga mendorong kepada pihak swasta terkait dengan pendanaan untuk lebih banyak masuk dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur yang tak bisa seluruhnya dipenuhi melalui APBN. Kementerian PUPR turut menawarkan berbagai inovasi alternatif pembiayaan atau creative financing untuk membangun infrastruktur seperti jalan tol dan penyediaan air minum.

Salah satu inovasi produk hasil karya Balitbang melalui Puslitbang Jalan dan Jembatan yang diperkenalkan kepada pengunjung pameran adalah Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50 persen, dibandingkan konstruksi beton umumnya yang memakan waktu 12 bulan. Sementara CMP hanya memerlukan enam bulan. Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan panjang lengkungannya dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga delapan lajur kendaraan di bawah jembatan.

Penerpan Inovasi teknologi CMP telah diterakpkan di Jembatan layang Antapani yang terletak pada dua kecamatan yaitu Kecamatan Kiaracondong dan Batununggal, merupakan proyek percontohan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.

Jembatan layang (overpass) Antapani diresmikan langsung oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla pada tanggal 24 Januari 2016 didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Wagub Jawa Barat Deddy Miswar, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan sejumlah pejabat lainnya.

Kedepan setiap pembangunan jalan layang harus menerapkan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) seperti di jembatan Antapani. Dengan teknologi ini bisa memangkas waktu cukup singkat hanya enam bulan dan anggarannya lebih efisien 30 persen dari konvensional. "Ada perhitungan kalau membuat satu flyover membutuhkan Rp 100 miliar, tapi dengan teknologi ini anggaran lebih kecil hanya Rp 30 miliar. Jadi nanti harus pakai ini karena anggaran kita terbatas," tambah Wapres.

Wapres Jusup Kalla memberikan penjelasan mengenai Jembatan Layang Pelangi kepada awak media seusai peresmian

 

Passover Pelangi yang terletak pada dua kecamatan yaitu Kecamatan Kiaracondong dan Batununggal