"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

MENGGAPAI MIMPI BANGUN GARUDA DI TELUK JAKARTA

Teluk Jakarta dengan panjang pantainya yang mencapai 32 km merupakan potensi pengembangan yang bernilai sangat tinggi. Selain itu, Teluk Jakarta juga bisa berperan strategis untuk pencegahan dan pengendalian bahaya banjir di kota ini.

Banjir merupakan masalah kota Jakarta sejak zaman dulu kala. Berdasarkan catatan sejarah, banjir besar pernah melanda kota Jakarta pada tahun 1699, 1714, 1854, dan 1918. Kemudian, setelah itu kejadian banjir semakin sering, yaitu pada tahun 1966, 2002, 2007, dan 2008. Bahkan akhir-akhir ini Jakarta selalu dihantui oleh banjir hampir di setiap awal tahun. Lokasi geografis Jakarta yang terletak di cekungan menyebabkan banjir bisa terjadi di setiap tahun.

Banjir yang acap terjadi di Jakarta di samping disebabkan oleh hujan dan aliran dari hulu, juga oleh disebabkan oleh kenaikan air laut. Selain itu turunnya permukaan tanah di beberapa wilayah Jakarta yang terjadi sekitar 2,5 cm hingga 10 cm setiap tahunnya turut menjadi factor yang menentukan.

Kenaikan air laut atau yang sering disebut dengan rob air laut juga memicu terjadinya banjir. Beberapa daerah di pesisir pantai Jakarta sudah terletak di bawah permukaan laut, sehingga diperlukan tanggul untuk menahan air laut agar tidak memasuki wilayah permukiman.

Jakarta mempunyai 13 sungai yang mengalir dari hulu dan bermuara di laut setelah melintasi kota Jakarta. Bisa dibayangkan apabila hujan lebat disertai dengan meningkatnya debit aliran sungai yang bersamaan dengan pasang air laut, maka masyarakat Jakarta sangat berharap pada peran kinerja pompa-pompa air untuk menyalurkan aliran sungai ke laut.

Konsep Pengendalian Banjir Jakarta

Konsep pengendalian banjir Jakarta adalah dengan filosofi sebagai berikut

  1. Menahan air di hulu dengan waduk-waduk retensi dan konservasi;
  2. Mengatur debit aliran sungai dengan membatasi aliran yang masuk ke kota Jakarta dan mengalihkan kelebihan air melalui kanal banjir menuju laut;
  3. Membangun tembok laut untuk mencegah pasang laut;
  4. Melakukan pemompaan genangan air dan membuang ke laut.

Reklamasi Pantai Multi Fungsi

Pengembangan wilayah sungai ke arah utara menjadi pilihan yang cukup realistis, mengingat daerah selatan perlu dilindungi sebagai lahan konservasi. Namun mengingat tren penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut sebagai dampak perubahan iklim yang terjadi akan membuat daerah itu akan tenggelem dalam 20-30 tahun mendatang, sehingga diperlukan inovasi guna mengatasi hal tersebut.

Inovasi diperlukan untuk mengentikan air laut masuk ke daratan dengan membangun tembok atau tanggul laut baik di sepanjang garis pantai maupun di lepas pantai Jakarta. Laguna yang terbentuk di antara tanggul laut dengan daratan akan menjadi air tawar dan kualitasnya dijaga sehingga dapat dijadikan sumber air baku air minum Jakarta. Elevasi muka air di laguna dipertahankan sehingga dapat menampung debit aliran sungai-sungai di Jakarta. Dengan demikian diharapkan dapat mengendalikan banjir kota Jakarta.

Tanggul laut yang dibangun dapat diselaraskan dengan program reklamasi dan dapat difungsikan sebagai daerah hunian serta fasilitas perekonomian maupun sarana pendukung kehidupan lainnya. Tanggul laut juga dapat difungsikan sebagai jalan sarana transportasi penghubung dan sarana untuk memperlancar roda perekonomian. Bentuk reklamasi itu direncanakan sedemikian rupa sehingga bentuknya menyerupai Garuda lambang Negara Republik Indonesia.

Di daerah badan dan kepala burung Garuda, direncanakan untuk pengembangan sarana komersial. Demikian juga pusat administrasi kota Jakarta dapat dipindahkan kesini. Beberapa kebutuhan publik meliputi museum, perpustakaan, dan arena hiburan juga dialokasikan di daerah ini.

Di daerah kaki dan ekor Garuda direncanakan untuk daerah permukiman dengan berbagai fasilitasnya. Sedangkan daerah sayap direncanakan untuk fasilitas umum dan area hiburan serta permainan terbuka.

Tahap pelaksanaan pembangunan Garuda di Teluk Jakarta bisa dilakukan dalam tiga tahap, dalam kurun waktu selambatnya 20 tahun. Tahap pertama adalah membangun tembok pantai di sepanjang pantai Jakarta yang diharapkan akan dapat diselesaikan pada tahun 2015. Tahap kedua, melakukan reklamasi di pantai Jakarta yang diharapkan selesai dalam tahun 2020/2025. Terakhir, membangun Garuda di Teluk Jakarta secara lengkap dan diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun 2025/2035. Proses pembangunan Garuda di Teluk Jakarta tentunya akan menimbulkan dampak teknis, lingkungan maupun budaya, yang masing-masingnya perlu dilakukan studi lebih cermat.