"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Penyediaan Air Baku, Kuantitas dan Kualitas Serta Potensi Kehilangannya

Kebutuhan dan Presentase Perkiraan Kekurangan Air Baku di Indonesia (2015-2019)

Berdasarkan catatan Direktorat Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen SDA) pada tahun 2013, Indonesia memiliki cadangan air sebanyak 3.906 miliar m3/ tahun. Jika kita coba menghitung kebutuhan air bersih menggunakan standard WHO yaitu 30 liter/hari maka diperlukan 7,5 miliar liter/ hari atau 2.737 miliar m3/ tahun. Melihat perbandingan kebutuhan dan ketersediaan itu tentunya masih banyak cadangan airnya, namun perlu diingat bahwa keberadaan air yang kita miliki tidaklah merata, dan tergantung oleh faktor curah hujan, letak geografis dan kondisi geologis wilayah.

Masalah lain terkait kuantitas air baku air bersih selain penyiapan kebutuhan air baku baru, adalah adanya potensi kehilangan air. Sebagai contoh kasus di Waduk Wonogiri (tahun 2014-2015), dari jumlah produksi 1.308 m3/ detik dalam satu tahun, terdapat kehilangan air 290 m3/detik atau sebesar 22% nya.

peta perkiraan pertambahan jumlah penduduk indonesia tahun 2019

Sumber air untuk air minum dapat berasal dari beberapa sumber air, misalnya air permukaan, air tanah, mata air maupun air di angkasa. Sumber air yang berasal dari mata air, tentunya tidak memiliki masalah dengan kualitasnya, namun lebih kepada kuantitas akibat dari alih fungsi lahan dan perambahan hutan. Sumber air baku dari air permukaan sebagian besar telah terkontaminasi dengan zat berbahaya bagi kesehatan, sehingga membutuhkan pengolahan sebelum dapat dikonsumsi.

Dalam proses pengolahan air, infrastruktur pertama untuk pengambil air diistilahkan sebagai intake, dapat direncanakan untuk dapat menangkap air dengan kualitas yang paling baik, menghindari ikan dan benda mengambang, endapan kasar dan benda terlarut lainnya. Saluran air baku, boleh menggunakan saluran terbuka jika air belum diolah, namun untuk yang telah diolah, diharuskan menggunakan saluran tertutup untuk menghindari pencemaran atau penurunan kualitas air. Kualitas air baku dapat berada pada kondisi memenuhi syarat baku mutu, ataupun tidak seluruhnya memenuhi syarat baku mutu. Ketidaksesuaian dengan syarat baku mutu ini dapat diselesaikan dengan pengaturan penggunaan bahan kimia. Namun hal ini juga dapat memberikan dampak munculnya limbah lumpur, yang membutuhkan pembilasan pada bangunan pengolah air.

Hal ini menyebabkan munculnya tambahan kebutuhan air untuk produksi akibat kualitas yang tidak standar. Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Lingkungan Bidang Permukiman, di tahun 2015 ini mencoba untuk menemukan formula penentuan potensi kehilangan air baku akibat kualitas yang tidak baik, yang mengakibatkan adanya tambahan air yang terbuang dalam proses produksi.