"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Analisa Dampak Sosial Ekonomi Infrastruktur Jawa Sumatera

Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. Peran infrastruktur dalam pembangunan dapat dilihat dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi yang implikasinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Secara makro ketersediaan pelayanan infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital dan secara mikro pengaruh pelayanan infrastruktur adalah mengurangi biaya produksi. Pengaruh infrastruktur terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, adalah peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran.

Infrastruktur Pekerjaan Umum (PU) merupakan salah satu bentuk pelayanan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur memang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat dari elastisitasnya yang relatif besar, terutama irigasi, listrik dan jalan.

 

Analisis Dampak Sosial-ekonomi (ADS) yang mengambil lokasi studi di Jawa dan Sumatera ini menggunakan metode analisis input-output, ekonometrika dan analisis sosial. Analisis dititikberatkan pada pengaruh atau dampak positif pembangunan infrastruktur, khususnya prasarana Air Bersih, Bangunan umum, prasaranana pertanian (irigasi) dan jalan serta jembatan

 

Keunggulan

 

  1. Dapat dijadikan referensi dalam pengalokasian anggaran
  2. Dapat dijadikan masukan bagi pimpinan departemen dalam penyusunan kebijakan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum ke depan
  3. Mengetahui sektor mana yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi baik secara makro maupun secara mikro
  4. Mengetahui sektor mana yang paling banyak menyerap tenaga kerja baik secara makro ataupun secara mikro
  5. Dapat memperkirakan peningkatan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum jangkia panjang yang efektif guna mendorong peningkatan sosial ekonomi masyarakat

 

Kelemahan

 

  1. Adanya keterbatasan data sehingga terdapat beberapa keterbatasan dalam analisis
  2. Analisis input-output tidak bisa menganalisis dampak lanjutan dari ketersediaan infrastruktur
  3. Analisis ekonometrika dibatasi hanya untuk menganalisis pertumbuhan ekonomi saja dan tidak menganalisis indikator makro ekonomi lainnya

 

Lingkup dan Proses Kerja

 

ADS Infrastruktur di Jawa dan Sumatera ini mempertimbangkan adanya keterbatasan sumber daya (waktu, biaya dan tenaga). Oleh karena itu, ruang lingkupnya dibatasi pada hal-hal berikut:

 

  1. Data provinsi di Sumatera hanya diambil 3 lokasi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Lampung sementara untuk Jawa diambil seluruh provinsinya
  2. Infrastruktur Bina Marga dibatasi pada Jalan Lintas Timur di Sumatera dan Jalan Pantura di Jawa
  3. Infrastruktur SDA dibatasi pada irigasi dan dilakukan hanya di Jawa saja
  4. Infrastruktur Cipta Karya dibatasi pada air bersih, bangunan dan dilakukan hanya di Jawa saja

 

Tujuan, metoda, Skala analisis, dan kebutuhan data untuk melakukan ADS Infra dirangkum pada Tabel-1, sedangkan Tabel-2 menjelaskan kondisi data lapangan.

 

Tabel  1.  Skala Analisis, Tujuan, Metode dan Data yang Dibutuhkan

 

Skala Analisis

Tujuan Analisis

Metode Analisis

Data

Makro :

Nasional

Peran dan dampak sektor infrastruktur terhadap pertumbuhan, kesejahteraan rakyat (pendapatan masyarakat dan Tenaga Kerja) secara agregat nasional Model Input Output
  1. Tabel I-O 175 Sektor Nasional
  2. Data Tenaga Kerja
  3. Data Pendapatan Masyarakat
Makro: Propinsi/ Pulau Jawa & Sumatera Peran dan dampak infrastruktur terhadap pertumbuhan, kesejahteraan rakyat di Jawa dan Sumatera Model Input Output
  1. Tabel IRIO 35 Sektor (antar propinsi)
  2. Data Pendapatan Masyarakat
Mikro :

Nasional/ Propinsi

Melihat arah dan besaran pengaruh adanya investasi atau penambahan stok maupun belanja infrastruktur pekerjaan umum terhadap pertumbuhan ekonomi Ekono-metrika
  1. Investasi Infrastruktur ke-PU-an di setiap Propinsi.
  2. Data PDRB setiap daerah sampel
    1. Data Penduduk
    2. Data Tenaga Kerja
    3. Data Pengangguran
    4. Data Konsumsi Masyarakat
    5. Data Kemiskinan
Mikro :

Propinsi/ sektoral ke-PU-an

Mengetahui dampak pembangunan infrastruktur terhadap kesejahteraan sosial/masyarakat Analisis Sosial Ekonomi Dampak Invest PU terhadap:
  1. Wirausaha
  2. Kegiatan non formal
  3. Pariwisata
  4. Kegiatan industri
  5. Pertumbuhan kawasan baru
Analisis Sosial Budaya Dampak Invest PU terhadap :
  1. Pertumbuhan Sosek kawasan
  2. Dukungan akasesibilitas terhadap kesejahteraan di desa
  3. Peluang Partisipasi langsung Masyarakat dalam pengelolaan infrastruktur desa
  4. Pranata sosial/ kelembagaan masyarakat.
  5. Terbentuk dan berkembangnya Social Capital

 

Tabel  2.  Kebutuhan dan Ketersediaan Data untuk Analisis

 

No

ANALISIS

DATA IDEAL

DATA YANG TERSEDIA 

1. Input Output Nasional Mencakup seluruh sektor termasuk sektor ke-PU-an Tabel IO 175 sektor tahun 2005 dengan kondisi sektor PU masuk ke dalam sektor:
  • Prasarana Pertanian
  • Listrik, Gas dan Air Bersih
  • Bangunan
  • Jalan, jembatan dan pelabuhan
2. Interregional Input-Output Mencakup seluruh propinsi dan seluruh sektor termasuk ke-PU-an, tahun terbaru Tabel IRIO 35 sektor tahun 2005 dengan kondisi sektor PU masuk ke dalam sektor:
  • Listrik, Gas dan Air Bersih
  • Bangunan
3. Ekonometrika Data investasi PU (menurut bidang BM, CK dan SDA) untuk 10 tahun terakhir (1998 – 2008) dan terperinci menurut propinsi. Pagu Anggaran PU menurut bidang (BM,CK & SDA) tahun 2005, 2006 & 2007.

Data tahun sebelumnya tidak tersedia

Data pertumbuhan ekonomi setiap sektor yang berhu-bungan dengan ke-PU-an Terbatas pada sektor : Irigasi, air bersih, transportasi.

 

Hasil dan Acuan Perumusan Kebijakan

 

1. Analisis Input – Output (I-O)

 

Analisis input – output ini akan mencoba mencari bagaimana pengaruh infrastruktur PU terhadap perekonomian secara total di 9 Provinsi yang menjadi lokasi penelitian. Perekonomian ini didefinisikan menjadi 2 yaitu Efek Pengganda (Multiplier Effect) dan Penyerapan Tenaga Kerja. Hasil Analisis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel  3.  Angka Efek Pengganda dan Penyerapan Tenaga Kerja

 

Sektor Ke-PU-an

OMi

OMj

OMij

SEMi

SEMj

SEMij

Air Bersih

1.309

0.640

1.949

0.0025

0.0035

0.006

Bangunan (Pemukiman & Non Pemukiman)

1.004

0.817

1.821

0.006

0.009

0.015

Prasarana Pertanian

1.001

0.798

1.799

0.007

0.009

0.016

Jalan, Jembatan & Pelabuhan

1.006

0.727

1.733

0.0075

0.0105

0.018

 

Sumber: Tabel Input-Output  2005, diolah

 

Keterangan:

 

OMi          : Output Multiplier (Efek Pengganda) sektor i

 

OMj       : Output Multiplier (Efek Pengganda) sektor non i

 

OMij      : Agregat Output Multiplier (Efek Pengganda)

 

SEMi      : Simple Employment Multiplier (tenaga kerja) sektor i

 

SEMj      : Simple Employment Multiplier (tenaga kerja) sektor non i

 

SEMij     : Agregat Simple Employment Multiplier (tenaga kerja)

 

Sektor sektor yang dikaji adalah

 

  1. Sektor Air Bersih yang meliputi pengadaan dan penyaluran air bersih
  2. Sektor Bangunan, meliputi penyiapan lahan, konstruksi gedung, pemukiman (tempat tinggal) dan non pemukiman, pembangunan instalasi publik dan kegiatan lainnya
  3. Sektor Prasarana Pertanian, meliputi bangunan pengairan
  4. Sektor Jalan Jembatan & Pelabuhan, meliputi bangunan jalan, jembatan, kereta api dan dermaga

 

Hasil analisis I-O menyimpulkan bahwa pembangunan sektor Air Bersih berperan meningkatkan sektornya sendiri (angka pengganda sektor terbesar), sedangkan sektor bangunan meningkatkan sektor lainnya (angka pengganda non sektor terbesar). Sementara itu, sektor jalan dan jembatan berperan membuka lapangan kerja disektornya sendiri maupun sektor sektor lainnya (angka pengganda tenaga kerja sektor, non sektor dan agregatnya terbesar).

 

Catatan:

Setiap kenaikan permintaan akhir pada sektor air bersih sebesar Rp. 1 Milyar akan meningkatkan total output terhadap sektor ini sebesar Rp. 1,309 Milyar, sektor lainnya sebesar Rp. 640 juta, perekonomian sebesar Rp. 1,949 Milyar, tenaga kerja disektor air bersih sebesar 2,5%, disektor lain selain air bersih sebesar  3,5%. dan terhadap perekonomian sebesar 6%.

 

2.  Analisis Ekonometrika

 

Fokus analisis ini adalah “nilai elastisitas” yang diperoleh dari hasil estimasi “model regresi” data panel yang meliputi (i) analisis seluruh sektor dan seluruh propinsi, dan (ii) analisis seluruh sektor, tetapi per propinsi.

 

a.    Analisis seluruh sektor seluruh provinsi

 

Hasil analisis seluruh sektor dan seluruh propinsi menimpulkan bahwa nilai elastisitas seluruh sektor PU terhadap pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi adalah sebesar 0,18. Artinya setiap kenaikan anggaran pembangunan infrastruktur PU sebesar 1%, PDB meningkat sebesar 0,18%. Apabila PDRB Sumatera Selatan sebesar Rp. 58 Trilyun (2008), maka dengan anggaran pembangunan infrastruktur PU sebesar 1% dari 1 Trilyun (akhir tahun 2009) atau  Rp. 1,0  Milyar, PDRB Lampung diperkirakan meningkat sebesar Rp. 104,44 Milyar (0,18% dari 58 Trilyun).

 

b.   Analisis seluruh sektor per provinsi

 

Nilai elastisitas seluruh sektor per propinsi beragam, meskipun secara umum nilai elastisitas infrastruktur PU masih di bawah 0,5 %. Elastisitas tertinggi sendiri adalah di Provinsi Lampung dengan nilai 0,24% sementara nilai elastisitas terenndah di Provinsi Jawa Tengah.

 

Hampir sebagian besar propinsi di Jawa mempunyai nilai elastisitas lebih rendah daripada propinsi propinsi yang ada di Sumatera, kecuali untuk Jawa Timur yang nilai elastisitasnya sama dengan Sumatra Utara. Hal ini diduga karena investasi bidang ke-PU-an di Jawa telah mengalami kejenuhan relatif bila dibandingkan dengan Sumatera atau dampak positif tambahan investasi PU di Jawa tidak sebesar apa yang terjadi di Sumaterea.

 

3.  Analisis Sosial

 

Proses kesejahteraan sosial tidak dapat dipisahkan secara nyata dari pembangunan ekonomi. Artinya, pembangunan ekonomi tidak akan bermakna (meaningless), apabila tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dari populasi sebagai suatu kesatuan. Hasil analisis sosial adalah sebagai berikut:

 

Tabel-4 Analisis Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat (2003-2005)

 

No

Faktor Pemicu Kesejahteraan

Hasil Analisis Sosial

1 Pertumbuhan Sektor Ekonomi
  1. Industri kerajinan kayu, logam, kain/tenun dan industri makanan di 9 provinsi tumbuh lebih dari 65%
  2. Pendapatan masyarakat meningkat 28,21%
  3. Jumlah KUD menurun 31,5% sedangkan Koperasi lainnya mengalami peningkatan yang signifikan rata-rata 81,44%.
2 Aksesibilitas Peningkatan Kesejahteraan di Desa
  1. Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditinjau dari aspek social capital menyimpulan bahwa lebih dari 96% desa masih memiliki tradisi gotong-royong yang kental/kuat.
  2. Menurunnya desa yang mengalami konflik sebesar 2,9%
3 Terbentuknya/

Berkembangnya Social Capital

  1. kelembagaan sosial yang ditinjau dari presentase keberadaan Majelis Taklim rata rata meningkat dari 90,24% (2003) menjadi 92,42% (2005)
  2. Presentase Kelembagaan bagi pemuda relatif tinggi, yaitu 83,61% desa.