"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"
Produk Terkait
Penataan dan Pengembangan Kampung Nelayan Berbasis Penyediaan Infrastruktur Permukiman Mendukung Penghidupan BerkelanjutanTeknologi Pengolahan Air Limbah Sistem Bio-FilterInstalasi Daur Ulang Air Limbah Sistem BiotourBebak Laminasi dari GewangBambu LaminasiTeknologi Pracetak n-PanelPeta Gempa Indonesia Tahun 2017Teknologi Pracetak C-PlusRumah Unggul Sistem Panel Instan (RUSPIN)Sistem Informasi Geografis Sumber Daya AirJurnal Permukiman Jurnal Sumber Daya AirJurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan UmumKONEKTIVITAS JALAN MENDUKUNG SISTEM LOGISTIK NASIONALJurnal Jalan dan JembatanJurnal IrigasiSTRATEGI PENERAPAN TEKNOLOGI JEMBATAN APUNGURBAN SAFETY MANAGEMENTAPLIKASI BERBASIS PONSEL JALAN KITA (JAKI)TEKNOLOGI ANJUNGAN CERDAS (ROSSITA)APILL PORTABLE ALAT PEMBERI ISYARAT LALU LINTASREMOTE CONTROL MONITORING SYSTEM (RCMS)HYDROSEEDINGTEKNOLOGI PENAHAN EROSI LERENGPEMERINGKATAN JALAN HIJAU GREEN ROAD RATINGSINDILA Sistem Informasi Dini Lalu LintasPLATO Sofware Penghitung dan Pencatatan Volume Lalu Lintas JalanSISTEM INFORMASI DRAINASE JALANFASILITAS JALUR SEPEDA DAN FASILITAs JALUR KHUSUS SEPEDA MOTORFASILITAS PEJALAN KAKIRUANG HENTI KHUSUS KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA (RHK)CORRUGATED MORTA PUSJATAN (CMP)TEKNOLOGI PENANGANAN RUNTUHAN BANTUANTIMBUNAN RINGANBETON DENGAN SEDIKIT SEMEN MEMANFAATKAN ABU TERBANG PLTU BATU BARA FLY ASHTEKNOLOGI CAT ANTI-FOULING JEMBATANSISTEM INFORMASI MANAJEMEN BAGAS (SIMBAGAS)TEKNOLOGI CABLE STAYEDTEKNOLOGI JEMBATAN UNTUK DESA ASIMETRIS (JUDESA)KINERJA BETON TINGGI13. RECYCLING ASPHALT PAVEMENTSTABILILTAS JALAN BERVOLUME DAN BERBIAYA RENDAHBUTUR SEALTEKNOLOGI ASPAL KARETWARM MIX ASPHALT ZEOLITWARM MIX ASPHALT ECONUSKAALAT PENGUKUR KEKUATAN JALAN (APKJ)BIMA-LIGHT FRIEDTEST LIGHT FALLING WEIGHT DEFLECTOMETER (LWD)TAMBALAN CEPAT MANTAP (TCM)SANDBASE LAPIS FONDASI PASIR ASPAL (LFPA)TEKNOLOG MATERIAL LOKAL BATU KAPURHOT MIX LAWELE GRANULAR ASBUTON (HLCA)COLD PAVING HOT MIX ASBUTON (CPHMA)BENDUNG KNOCKDOWN PINTU SORONG TONJOL BERBAHAN GFRP (GLASS FIBER REINFORCED POLYMER)PINTU AIR OTOMATIS TAHAN KOROSI BAHAN FIBER RESINJARINGAN IRIGASI TETES BERBASIS PARTISIPASI PETANIJARINGAN IRIGASI PERPIPAANPINTU AIR IRIGASI DENGAN BAHAN FERROCEMENT (BOX TERSIER)SUMUR RESAPANTEKNOLOGI TRICKLING UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH PENDUDUK MENGUNAKAN MEDIA BATMIK DAN PLASTIKINSTALASI PENGOLAHAN AIR SANGAT SEDERHANA (IPASS)INSTALASI PENGULAHAN AIR GAMBUT UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIHBENDUNGAN BAWAH TANAHBENDUNG DAN PELIMPAH TIPE GERGAJIAKUIFER BUATAN DAUR ULANG AIR HUJAN (ABDULAH)BANGUNAN AKUIFER BUATAN SIMPANAN AIR HUJAN (ABSAH)Sarana Resapan Air Hujan Sangat Sederhana (SaRASS)Ekoteknologi MIKROHIDROPEMECAH GELOMBANG AMBANG RENDAH (PEGAR)BLOK BETON 3B ( Berkait, Berongga dan Bertangga) SEBAGAI ALTERNATIF TEKNOLOGI PENGAMAN PANTAIMajalah Dinamika Riset Edisi 3 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi 2 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi 1 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi khusus tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 3 tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 2 tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 1 tahun 2015PEDOMAN ANALISIS HARGA SATUAN PEKERJAAN BIDANG PEKERJAAN UMUM AHSP PermenPUNo28 PRT M 2016Ketentuan seismik untuk struktur baja bangunan gedung ANSI AISC 341 10 IDTSpesifikasi untuk gedung baja struktural SNI 1729 2015Tata cara pengendalian serangan rayap tanah pada bangunan rumah dan gedung paska konstruksi SNI 2404 2015Spesifikasi blok pemandu pada jalur pejalan kaki SNI 8160 2015Spesifikasi geometri teluk bus SNI 2838 2015Metode pengukuran kedalaman menggunakan alat perum gema untuk menghasilkan peta batimetri SNI 8283 2016Standar perencanaan ketahanan gempa untuk jembatan SNI 2833 2016Spesifikasi bata beton TiOO sebagai pereduksi polutan udara SNI 8308 2016Tata cara analisis pengujian surutan bertahap pada sumur uji dan sumur produksi dengan metode Hantush Beirsch SNI 8061 2015Tata cara analisis dan evaluasi data uji pemompaan dengan metode Papadopulos cooper SNI 2817 2015Tata cara penghitungan evapotranspirasi tanaman acuan dengan metode Penmanmonteith SNI 7745 2012Pengukuran debit pada saluran terbuka menggunakan bangunan ukur tipe pelimpah atas SNI 8137 2015Tata cara perencanaan umum krib sungai bagian 1 perencanaan umum SNI 2400 1 2016Perhitungan debit andalan air sungai dengan kurva durasi debit SNI 6738 2015Tata cara pengukuran kecepatan aliran pada uji model hidraulik fisik UMH Fisik dengan alat ukur arus tipe baling baling SNI 3408 2015Tata cara pengukuran debit aliran sungai dan saluran terbuka menggunakan alat ukur arus dan pelampung SNI 8066 2015Tata cara desain hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dan MDS SNI 8063 2015Desain bangunan penahan sedimen SNI 2851 2015Tata cara desain tubuh bendungan tipe urugan SNI 8062 2015Metode analisis dan cara pengendalian rembesan air untuk bendungan tipe urugan SNI 8065 2016Spesifikasi baut baja hasil perlakuan panas dengan kuat tarik minimum 830 MPa Structural Bolts Steel Heat Treated 830 MPa Minimum Tensile Strength metric ASTM A325 M 04 IDT SNI ASTM A325M 2012Metode uji rangkak untuk beton yang tertekan ASTM C512 C512M 10 IDT SNI 4811 2016Tata cara pengukuran tekanan air pori tanah dengan pisometer pipa terbuka Casagrande SNI 8134 2015Metode uji pengukuran tahanan cabut geosintetik dalam tanah SNI 8128 2016 ASTM A6706 01 2007 IDTCara uji pengukuran potensi keruntuhan tanah di laboratorium SNI 8072 2016Metode uji koefisien kelulusan air pada tanah gambut dengan tinggi tekan tetap SNI 8071 2016Metode uji penentuan kadar pasir dalam slari bentonit SNI 8073 2016Metode uji kelulusan air pada tanah jenuh dengan menggunakan sel triaksial SNI 8070 2016Metode uji kuat geser langsung tanah tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase SNI 3420 2016Pedoman penjahitan melintang pada pemeliharaan perkerasan kaku Surat Edaran Menteri PUPR 06 SE M 2016Pedoman perancangan pelaksanaan perkerasan jalan telford Surat Edaran Menteri PUPR 04 SE M 2016Pedoman penentuan Bridge Load Rating untuk jembatan existing Surat Edaran Menteri PUPR 04 SE M 2016Pedoman perancangan jembatan integral penuh tipe gelagar beton bertulang Surat Edaran Menteri PUPR No 02 SE M 2016Pedoman tata cara penentuan campuran beton normal dengan semen OPC PPC dan PCC Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 07 SE M 2016Tata cara perhitungan debit banjir SNI 2415 2016Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan tipe urugan SNI 8064 2016Spesifikasi semen slag untuk digunakan dalam beton dan mortar ASTM C989 10 IDT SNI 6385 2016Metode uji rangkak untuk beton yang tertekan ASTM C512 C512M 10 IDT SNI 4811 2016Metode uji indeks ekspansi tanah Standard test method for expansion index of soilsPRESS TOUR PUSAT LITBANG PERMUKIMANBATA dan BATAKO LIMBAH BATU APUNGEdisi I Januari Maret 2013Strategi Penerapan Hunian Apung ModularModel Perhitungan Cepat Nilai Tanah dalam Rencana Pembangunan WadukASR Aquifer Storage and Recover Teknologi Sumur Imbuhan Berbasis Aquifer Storage and RecoveryDinamika RISET Volume X No 2 April Juni 2012Pengamanan Abrasi Pantai Oleh Masyarakat JeparaBak Pengendap BerkepingBlok Beton TerkunciRekayasa Sosial Pembangunan BendunganKajian Sosial Ekonomi Rencana Pembangunan Jalan Tol dan Kereta Api di Pulau JawaDinamika RISET Volume X No 2 April Juni 2012EGA Ecotech GArdenGeocell Sebagai Pelindung Tebing SungaiPelindung Tebing Sungai Bio Engineering yang Berwawasan LingkunganTangga DaruratSprinkler Type BIR V1 Balai Irigasi ReformTeralis Aman KebakaranRumah Tradisional Huni WamenaKincir Air Tipe PUSAIRTenda Bencana Skala KeluargaHarmonisasi Sampah Perkotaan Sebagai Upaya Perbaikan Kesehatan Masyarakat Kualitas Sumber Air Lingkungan Dan EkonomiMPPMP Akar AkarAnalisa Dampak Sosial Ekonomi Infrastruktur Jawa SumateraSelimut ApiRumah Susun Sederhana CIGUGUR CIMAHIRumah Instan Sederhana Sehat (RISHA)Majalah Dinamika Riset Balitbang 2015Puskim Convention Center Grha Wiksa PranitiBatu alam untuk bahan bangunan Mutu dan cara uji

EGA Ecotech GArden

 

Masalah lingkungan dari selokan terbuka grey water telah diatasi dengan Ecotech Garden (EGA) yang merupakan teknologi tepat guna sebagai alternatif untuk mengolah air selokan yang tercemar oleh grey water dengan memanfaatkan proses biologis dari tanaman hias air. 

 

EGA diterapkan sejak tahun 2005, dengan cara membelokkan aliran selokan yang tercemar grey water yang ada di depan rumah ke pekarangan dari salah satu rumah di Kompleks Perumahan Bumi Asri Bandung.

 

Unsur hara atau bahan pupuk tanaman (N, P dan K) yang terdapat didalam grey water telah menumbuhkan aneka tanaman hias air yang merupakan media dari EGA, sedangkan unsur pencemar lainnya (COD, Detergent, dsb) dapat berkurang karena diserap akar tanaman.

 

Berdasarkan area pekarangan yang ada, EGA dibuat dalam bentuk U, sehingga aliran keluar pekarangan dapat dimasukan kembali ke aliran selokan yang sebagian airnya telah diambil untuk mengairi EGA.

 

Ukuran EGA, lebih kecil bila dibandingkan dengan ketentuan ukuran desain luas permukaan instalasi pengolahan sejenis yang mengacu pada disain kriteria “Metcalf &Eddy” (Design guideline for constructed wetlands, p.995). EGA, memang tidak semata mata dirancang berdasarkan aliran permukaan, tetapi mempertimbangkan kebutuhan pupuk untuk jenis tanaman yang akan ditanam.

 

Aplikasi EGA, selain menurunkan unsur pencemar, juga meningkatkan estetika lingkungan dengan tanaman bunganya yang beraneka ragam. Dengan kata lain, EGA berperan menjaga kelestarian sumber sumber air, seraya meningkatkan estetika lingkungan, dan bahkan memberikan tambahan pendapatan bagi pengelolanya.

 

 Keunggulan EGA

 

  1. Menambah estetika lingkungan permukiman yang nyaman.
  2. Mengurangi pencemaran sungai, karena zat-zat pencemar seperti BOD, Total-N dan Total-P diserap oleh tanaman.
  3. Dapat menurunkan bau, dengan indikator dari penurunan kadar Amonia sebesar 50 % (semula 10,50 mg/L turun di outlet EGA menjadi 5,3 mg/L) sedangkan kriteria limbah domestik berbau minimal 6 mg/L (Arnold S.Vernik,1987)
  4. Tidak memerlukan biaya operasional yang mahal karena pengaliran air kotor menggunakan gaya gravitasi, bukan dengan pompa atau pipa.
  5. Dapat menambah pendapatan dari penjualan bibit bunga yang dihasilkan, yaitu ±Rp.219.000 per tahun,atau Rp.106.000,-per m2, walau harga cenderung menurun bila ada jenis tanaman hias baru.
  6.  Air sisa olahan dapat digunakan kembali, salah satunya untuk mengairi kolam ikan.

 

 Kelemahan EGA 

 

  1. Perlu pemeliharaan ekstra di bagian aliran masuk (inlet), karena teknologi bangunan peninggi air, menjadi tempat berkumpulnya sampah

 

Prinsip Kerja EGA

 

Pengaliran grey water ke EGA, dilakukan dengan cara memasang bendung di selokan, sehingga air dapat dibelokkan ke EGA.

 

Sistem EGA tersebut dapat dibangun di halaman rumah, atau taman taman yang ada di kompleks perumahan atau di bagian atas suatu situ atau danau alami.

 

EGA akan menyaring unsur unsur hara (pupuk) yang terkandung didalam air (Gambar-2), dan unsur bahan pencemar air lainnya. Unsur pupuk digunakan oleh tanaman untuk bertumbuh, sedangkan unsur pencemar, disaring oleh akar dan media penahan tanaman.

 

Air yang keluar dari EGA (sudah disaring secara biologis), dapat dialirkan kembali ke selokan dibagian hilir bendung, atau dialirkan ke waduk, dan sumber sumber air lainnya.

 

Karena bahan cemaran dalam air sudah berkurang, maka kualitas air yang dikembalikan ke selokan atau ke badan badan air lainnya, sudah lebih baik dari kualitas air sebelum melalui EGA.

 

Kriteria Desain

 

Ukuran luas EGA, dapat ditetapkan dengan menggunakan kriteria disain berikut ini:

 

A = Debit aliran (Q)/BP

Q = debil aliran dalam liter/menit

BP (beban permukaan) = 2.04 liter/menit/m2

Artinya: setiap liter per menit, memerlukan lahan untuk tanaman seluas ½ m2.   

 

 Spesifikasi EGA Skala Rumah tangga:

 

1. Profil EGA:

 

-        Berbentuk saluran dengan Lebar 40 cm

 

-        Saluran didisain dengan debit 0,07 liter/detik atau setara dengan 4.2 liter/menit

 

-        Tinggi/kedalaman saluran adalah 45 cm (ambang bebas 7,5 cm, tinggi air 7,5 cm, lapisan tanah 10 cm dan lapisan kerikil 20 cm)

 

-        Dasar saluran : tanah

 

2. Tepi saluran ditembok agar tidak longsor dan untuk tujuan kerapihan

 

Investasi dan Biaya Operasional

 

Biaya Pembuatan EGA untuk ukuran pada Gambar-2 adalah Rp.300.000,- (40% untuk biaya tanaman hias dan 60% untuk ongkos galian dan bahan).

 

  • Biaya EGA relatif murah, yaitu 429 US$ per L/det limbah yang diolah. (Kurs 1 US$ = Rp.10.000, Desember 2005). Sementara itu, Biaya sarana pengolahan Grey water di Pulau Miyako, Okinawa (Naoko,2005) adalah 797.538 US$ per L/det limbah yang diolah, atau sebesar 2600 kali EGA.
  • Perbedaan tersebut disebabkan karena biaya bahan dan ongkos yang sangat murah di Indonesia.
  • EGA pada contoh tersebut, dialirkan secara gravitasi, sedangkan pengolahan Grey water di Pulau Miyako menggunakai pompa yang mengkonsumsi listrik sebesar 78 Kwh/bulan.

 

Kinerja EGA Skala Rumah Tangga

 

Kinerja EGA bisa diketahui dengan membandingkan unsur pencemar di inlet dengan unsur unsur pencemar di outlet system.

 

Peluang Replikasi EGA

 

Ada dua faktor yang memberikan peluang sangat besar untuk mereplikasikan EGA dalam berbagai bentuk. Pertama, Saat ini hampir semua grey water masih dibuang ke selokan tanpa diolah. Hal ini mengakibatkan tingginya tingkat pencemaran sungai sungai di Indonesia. Selain itu sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik terpusat yang dapat mengolah grey water dan black water hanya terbatas pada 11 kota besar, dengan cakupan pelayanan sangat rendah yaitu sebesar 2,5 juta jiwa, atau baru sekitar 1  % dari total penduduk Indonesia.

 

Kedua, Indonesia terletak di khatulistiwa yang beriklim tropis, dimana kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan tanaman air, hal ini berlainan dengan negara yang mengalami empat musim dimana pada musim dingin ada kendala untuk tumbuhnya tanaman air.

 

EGA dapat dibangun pada kawasan pemukiman yang telah terbangun, maupun bersamaan dengan pembangunan suatu kawasan perumahan baru, atau disekitar (bagian Hulu) sumber sumber air seperti waduk, embung embung, situ situ, waduk waduk pengendali banjir di daerah perkotaan.

 

Apabila pengembang perumahan merancang penerapan EGA, selain dapat menghasilkan kawasan permukiman yang berwawasan lingkungan, juga sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli yang merupakan salah satu faktor pasar dan daya jual.

 

Implementasi EGA dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan pekarangan yang ada, pemilihan jenis tanaman sebagai media penyerap unsur pencemar tanaman dapat disesuaikan dengan kebutuhan, misal jenis tanaman obat (jaringao), memiliki nilai ekonomi pandan (bahan baku kerajinan: topi, tikar, tas, dll), pembungkus nasi timbel (pisang brazilia), dsb.