"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Harmonisasi Sampah Perkotaan Sebagai Upaya Perbaikan Kesehatan Masyarakat Kualitas Sumber Air Lingkungan Dan Ekonomi

 

Sampah perkotaan adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia yang bersumber dari rumah tangga, komersial, industri, dan aktifitas lainnya. Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

 

Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi mengakibatkan bertambahnya volume sampah yang dihasilkan dari tahun ke tahun. Aktifitas dan pola konsumsi masyarakat perkotaan mempengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan. Apabila tidak dikelola dengan baik timbul masalah pencemaran sumber air, tanah, udara dan bau, dan lebih jauh menimbulkan rasa tidak nyaman dan gangguan kesehatan.

 

Masalah lingkungan terkait sampah, yaitu terjadinya pencemaran sumber air (sungai dan air tanah) oleh leachate akibat pembusukan sampah, pencemaran lingkungan yaitu timbulnya bau akibat pembusukan sampah, dan fakta penyakit terkait sampah.

 

Untuk mengatasi berbagai masalah terkait sampah, diperlukan pengelolaan sampah terpadu, seperti : mengubah pola pikir tentang sampah, penerapan pengelolaan sampah terpadu, memanfaatkan sampah pasar sebagai pakan ternak.

 

 URAIAN DAN ANALISIS

 

Permasalahan yang ditimbulkan

 

Permasalahan yang terjadi akibat sampah pada hampir semua kota di Indonesia, yaitu :

 

1.  Sulitnya mendapatkan lahan TPAS yang umumnya berada di luar kota, karena penolakan masyarakat sekitar :

 

Tidak terpenuhinya persyaratan teknis Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) dan rendahnya biaya pengelolaan menyebabkan sampah terkumpul dalam volume  besar dan dapat menimbulkan bencana, seperti  bencana longsor yang pernah terjadi di TPAS Leuwigajah dengan volume longsoran mencapai 2.200.000 m3 : lebar 200 m, tinggi 10 m, dan jarak longsoran 1 Km, yang menewaskan 156 jiwa (21 Februari,2009) dan TPAS Bantar Gebang dengan ketinggian longsoran 20 m, telah menewaskan tiga orang pemulung (8,September,2006).

 

 2.   Proses Pembusukan Sampah yang menghasilkan Leachate

 

Pembusukan sampah organik menghasilkan Leachate, yaitu cairan sangat toksik, yang mengandung unsur terlarut dan tersuspensi, bau dan berwarna kehitaman. Terbentuknya leachate disebabkan : (i). Cairan yang berasal dari sampah itu sendiri; (ii). Berasal dari peresapan air hujan yang jatuh ke timbulan sampah.

 

Apabila terjadi gangguan keterlambatan pengangkutan sampah dari sumber sampah (rumah, pasar, industri, dll)  ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara)  atau TPAS, sampah akan menumpuk di sumber sampah dan dapat membuat lingkungan tidak nyaman karena bau tidak sedap yang dihasilkan oleh leachate dan menjadi tempat berkembang biak lalat, tikus dan belatung.

 

Sebagai contoh Kasus longsornya TPAS Leuwigajah, di Bandung (Februari,2005), dan Pemblokiran TPAS Bantar Gebang akibat unsur sosial dan teknis (Januari,2004), yang membuat sampah tidak dapat didistribusikan ke TPAS dan mengakibatkan tumpukan sampah yang membusuk di berbagai tempat dan mengganggu kenyamanan lingkungan.

 

 3.    Pencemaran Sumber Air dan Lingkungan

 

a)    Pencemaran Sumber Air

 

  • Pencemaran Sumur Sekitar TPS Sampah Kelurahan Pegangsaan

 

Pengaruh sampah terhadap pencemaran air sumur dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air sumur pada sumur yang berjarak 15 m dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah Kelurahan Pegangsaan terhadap persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001 dan terhadap Persyaratan Air Minum Permenkes 416/1990, yaitu sebagai berikut :

 

Tabel 1.Kualitas Air Sumur

 

Jarak 15 m dari TPS Sampah di Kelurahan Pegangsaan

 

Parameter

Sumur Pompa

Jarak 15 m dari TPS Pegangsaan

Standar Kualitas Air

Kelas I (Air Baku Air Minum) , PP 82/2001

Keterangan

BOD

6,6

2

(a)

COD

16

10

(a)

TSS

18

50

 
TDS

190

1000

 
Fe

0,47

0,30

(a)

p  H

7.1

 6 – 9

 
Mn

0,18

0,10

(a)

Nilai Permanganat

20

10 *

(b)

Keterangan :* Persyaratan Air Minum Permenkes 416/1990(a) : melampaui persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001

(b): melampaui persyaratan Air Minum Permenkes 416/1990

Sumber: Ratna Hidayat, dkk, 2004

 

Ternyata TPS sampah dengan jarak 15 m dari sumur telah berpengaruh terhadap kualitasnya, terdapat parameter yang tidak memenuhi persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001 untuk parameter BOD,COD,Fe dan Mn. Parameter nilai permanganat tidak sesuai dengan Air Minum Permenkes 416/1990.

 

 Pencemaran Sumur Gali Sekitar TPAS Bantar Gebang di Desa Sumur Batu

 

Pengaruh sampah terhadap pencemaran air sumur gali dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air empat sumur gali tersebut di Desa Sumur Batu yang berjarak 12 m, 30 m, 200 m dan 500 m dari TPAS Bantar Gebang terhadap persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001, diuraikan sebagai berikut :

 

Tabel 2.  Evaluasi Kualitas Air Sumur Gali

 

Sekitar TPAS Bantar Gebang di Desa Sumur Batu

 

No

Parameter

Satuan

Lokasi Sumur

Standar  Klas 1

PP 82/2001

SGB1(12m) SGB2(30m) SGB3(200m) SGB4(500m)
1 Zat Padat Tersuspensi mg/L

1

20

208

9

50

2 pH  

6,21

6,84

5,62

5,28

6 – 9

3 Amoniak, NH3-N mg/L

0,68

<0,30

0,36

0,34

0,05

4 BOD mg/L

2,44

2,18

8,4

1,82

2

5 COD mg/L

<4,27

<4,27

50

<4,27

10

6 Besi, Fe mg/L

<0,01

40,41

0,26

0,04

0,30

7 Mangan, Mn mg/L

<0,05

0,08

36,79

<0,05

0,10

8 Nitrit, NO2-N mg/L

<0,005

<0,005

<0,007

<0,005

0,05

9 Nitrat, NO3-N mg/L

1,08

<0,50

7,52

2,20

10

10 Timbal, Pb mg/L

0,06

0,10

0,16

0,07

0,03

11 Seng, Zn mg/L

0,06

0,16

0,04

<0,01

0,05

12 Kromium, Cr mg/L

<0,05

<0,05

<0,05

<0,05

0,05

13 Kadmium, Cd mg/L

<0,01

<0,01

<0,01

<0,01

0,01

14 Tembaga, Cu mg/L

<0,05

<0,05

<0,05

<0,05

0,02

15 Merkuri, Hg mg/L

0,14

0,09

0,36

<0,02

0,001

Sumber : Pusarpedal, 2002, Berdasar Sertifikat Hasil Uji Nomor : 09/LRP/DAL/02/02

 

Jarak 12 m, 30 m, 200 m dan 500 m dari sumur gali penduduk di Desa Sumur Batu ke TPAS Bantar Gebang telah berpengaruh terhadap kualitas air sumur, terdapat parameter yang tidak memenuhi persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001, dijelaskan sebagai berikut :

 

-          Pada Sumur SGB1, jarak 12 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : Amoniak, BOD, Timbal, Seng, Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB2, jarak 30 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : Amoniak, NH3-N, BOD, Besi, Timbal,Seng, Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB3, jarak 200 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu:ZPT, pH, Amoniak, BOD, COD, Mangan, Timbal , Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB4, jarak 500 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : pH, Amoniak, Timbal, Tembaga dan Merkuri

 

 Pencemaran Sumur Gali Sekitar TPAS Bantar Gebang di Desa Cikiwul

 

Pengaruh sampah terhadap pencemaran air sumur gali dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air lima sumur gali tersebut di Desa Cikiwul yang berjarak 15 m, 75 m, 200 m dan 500 m dari TPAS Bantar Gebang persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001, diuraikan sebagai berikut :

 

Tabel 3.Evaluasi Kualitas Air Sumur Gali

 

Sekitar TPA Sampah Bantar Gebang di Desa Cikiwul

 

No

Parameter

Satuan

Lokasi Sumur

Standar

Klas 1

PP 82/2001

SGB5

(15m)

SGB6

(75m)

SGB7

(200m)

SGB8

(200m)

SGB9

(500m)

1

Zat Padat Tersuspensi

mg/L

8

4

13

2

4

50

2

pH

 

5,63

4,76

7,89

4,89

 

6 – 9

3

Amoniak, NH3-N mg/L

0,69

<0,30

0,94

0,55

0,55

0,05

4

BOD mg/L

1,72

1,6

3,22

2,87

3,11

2

5

COD mg/L

<4,27

<4,27

<4,27

<4,27

<4,27

10

6

Besi, Fe mg/L

0,18

16,67

0,08

0,04

0,63

0,30

7

Mangan, Mn mg/L

17,05

0,28

<0,05

<0,05

<0,05

0,10

8

Nitrit, NO2-N mg/L

<0,005

<0,005

<0,005

<0,005

<0,005

0,05

9

Nitrat, NO3-N mg/L

6,60

9,65

3,51

<0,50

0,73

10

10

Timbal, Pb mg/L

<0,05

0,07

<0,05

0,08

0,09

0,03

11

Seng, Zn mg/L

0,09

0,05

0,01

0,07

0,11

0,05

12

Kromium, Cr mg/L

<0,05

<0,05

<0,06

<0,05

<0,05

0,05

13

Kadmium, Cd mg/L

<0,01

<0,01

<0,01

<0,01

<0,01

0,01

14

Tembaga, Cu mg/L

<0,05

<0,05

<0,05

<0,05

<0,05

0,02

15

Merkuri, Hg mg/L

0,14

0,16

0,14

0,14

0,19

0,001

Sumber : Pusarpedal, 2002, Berdasar Sertifikat Hasil Uji Nomor : 09/LRP/DAL/02/02

 

Jarak 15 m, 75 m, 200 m dan 500 m dari sumur gali penduduk di Desa Cikiwul ke TPAS Bantar Gebang telah berpengaruh terhadap kualitas air sumur.

 

Terdapat parameter yang tidak memenuhi persyaratan Air Baku Air Minum Klas 1 PP82/2001,  dijelaskan sebagai berikut :

 

-          Pada Sumur SGB5, jarak 15 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : pH,Amoniak-NH3-N, Mangan, Timbal,Seng, Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB6, jarak 75 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : pH,Amoniak-NH3-N, Besi, Mangan,Timbal, Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB7, jarak 200 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : Amoniak-NH3-N, BOD, Besi, Timbal,Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB8, jarak 500 m dari TPAS Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : pH,Amoniak-NH3-N, BOD,Timbal, Seng, Tembaga dan Merkuri

 

-          Pada Sumur SGB9, jarak 500 m dari TPA sampah Bantar Gebang, terdapat parameter kualitas air yang tidak sesuai Klas 1, yaitu : Amoniak-NH3-N, BOD,Besi, Timbal, Seng,Tembaga dan Merkuri

 

Simulasi Perubahan Kualitas  Air Tanah Sekitar TPAS Dago

 

Aliran leachate dibawah timbunan sampah berpotensi mencemari air tanah, memiliki kecepatan antara 10-2 -3×10-4 cm/detik, dengan demikian waktu untuk menempuh 1 km lapisan tanah dengan gradien 15º adalah sekitar 432 hari sampai 14.399 hari atau sekitar 1,2 – 40 tahun (Dadang, T.A.,dkk, 1992)

 

Berdasarkan simulasi air tanah menggunakan metoda Inverse Distance, diperoleh informasi sebagai berikut:

 

-          Air tanah kualitas baik, terdapat pada lokasi  arah Barat-Daya, Utara maupun Timur-Laut dari TPAS Dago. Ini sesuai dengan kondisi hidrogeologinya dimana leachate dari TPAS  Dago akan mencemari air tanah ke arah Selatan.

 

-          Dampak penyebaran leachate yang relative besar yaitu ±1,37 Km ke arah Selatan TPAS Dago yang ditunjukkan dari kadar yang relatif besar dari Nitrat, Nitrit, Mangan, Kalsium, Natrium, Magnesium, Klorida yang merupakan indikator terjadinya penyebaran polutan dari TPAS Dago.

 

b)    Pencemaran Udara

 

Pencemaran udara yang timbul sekitar TPAS, yaitu timbulnya bau dan asap akibat kebakaran di TPAS (Noriko, dkk, 2003)

 

Bau yang timbul dari pembusukan sampah tersebar mencapai jarak ± 10 km dari TPAS Bantar Gebang hingga ke kawasan Kemang Pratama, Kranji, dan Pekayon.

 

Kepulan asap akibat kebakaran di TPAS Bantar Gebang terjadi karena dicurinya pipa paralon pada System Sanitary Landfill yang berfungsi untuk membuang gas metan. Sementara dalam Kyoto Protocol yang sudah diratifikasi pemerintah Indonesia, yaitu pengurangan gas metan menjadi salah satu persyaratan.

 

 4.     Sampah Sebagai Sarang Bibit Penyakit

 

Sampah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan, karena timbulan sampah dapat menjadi tempat pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi, yaitu :

 

  • Spesies lalat yang perlu diawasi adalah lalat rumah (Musca domestica),umurnya 1-2 bulan, ada yang mencapai 6 bulan – 1 tahun, dapat menularkan berbagai penyakit (kolera, diare, dysentri, typhus, dan penyakit saluran pencernaan)
  • Lalat rumah, memiliki metamorfosis sempurna, sehingga lalat ini berperan sebagai vektor dari penyakit secara tidak langsung.

 

Tumpukan sampah juga merupakan habitat bagi tikus, kecoak, dan nyamuk. Tikus dan kecoak akan menyebar kemana mana, menghinggapi makanan, kemudian makanan yang tercemar dimakan manusia dan akhirnya menularkan penyakit (mencret, muntaber, dysentri, typhus) sedangkan nyamuk akan menularkan malaria dan demam berdarah.

 

 Berikut ini penyakit yang Terjadi Pada Masyarakat Sekitar TPAS

 

a)    Water Borne Deseases

 

Penduduk sekitar TPAS Dago terjangkit water borne deseases, ini merupakan indikator kesehatan lingkungan dari pengaruh TPAS Dago, rincian penyakit yaitu sebagai berikut :

 

Tabel 4. Penyakit di Sekitar TPAS Dago

 

No

Jenis Penyakit

Tahun

‘87/’88

‘88/’89

‘89/’90

‘90/’91

‘91/’92

1 Kulit dan jaringan bawah kulit

2.858

-

2.949

2.979

2.803

2 Diare

1.665

1.589

1.332

1.084

990

3 Radang kelopak mata

459

462

340

469

325

4 Cacar air

107

11

101

101

274

5 Dysentri basiler

31

51

91

80

169

6 Typhus

-

6

-

-

23

7 Cacing

-

6

9

-

15

8 Campak

27

-

78

29

14

Sumber : Puskesmas Dago Coblong

 

Kemungkinan saat ini terjadi perubahan jumlah dan jenis penyakit, karena TPAS Dago telah ditutup tahun 1990.

 

b)    Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

 

Bau dan asap dari terbakarnya sampah menyebabkan pencemaran udara yang mengakibatkan ISPA sebagai penyakit tertinggi di sekitar TPAS Bantar Gebang (Noriko,2003). Jika ISPA tidak ditangani dengan tuntas dapat berkembang menjadi pneumonia dan penyakit paru berat. Dalam setiap bulan sekitar 600 warga datang berobat ke Puskesmas Pembantu Kelurahan Sumur Batu, dengan penderita ISPA mencapai 144 orang. (Suara Pembaha ruan, 8 Mei,2006)

 

Dampak lain terbakarnya sampah, yaitu terbentuk dioxin, seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF (chlorinated dibenzo furan), atau PCB (poly chlorinated biphenyl). yang membahayakan kesehatan masyarakat serta akan memperburuk kualitas udara di sekitarnya. Senyawa dioxin sangat stabil hanya dapat larut dalam lemak dan tidak dapat terurai, apabila terhirup manusia, dioxin akan mengendap dalam tubuh, dimana pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kanker.

 

 c)    Dermatitis Kontak Iritan pada Petugas Kebersihan

 

Dermatitis Kontak Iritan (DKI), adalah : ”Penyakit kulit atau timbulnya kelainan kulit yang disebabkan bahan iritan”. DKI akibat kontak langsung dengan sampah pada Petugas Kebersihan diketahui dengan cara wawancara terhadap 30 orang petugas kebersihan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ”Kobana”, Tegallega di Kota Bandung. Survai dan wawancara dilakukan pada bulan Mei, 2007 terhadap 30 orang petugas kebersihan yang diperkirakan selalu kontak langsung dengan sampah atau  leachate. Wawancara meliputi delapan jenis gejala DKI pada responden sebelum dan sesudah berprofesi sebagai petugas kebersihan.

 

Hasil wawancara adalah sebagai berikut :

 

Tabel 5. DKI dari Petugas Kebersihan TPS Kobana

 

Gejala Penyakit Pada Kulit

Sebelum

Sesudah

Ya

Tidak

Total

Ya

Tidak

Total

1.Gatal-gatal

2

28

30

27

3

30

2.Eritema

1

29

30

22

8

30

3.Vesikel/Bula

0

30

30

13

17

30

4.Luka (seperti  luka iris)

0

30

30

7

23

30

5.Hiperkeratosis

0

30

30

0

30

30

6.Rasa perih

0

30

30

14

16

30

7.Rasa terbakar

0

30

30

11

19

30

8.Rasa seperti ditusuk-tusuk

0

30

30

7

23

30

Keterangan : Wawancara dengan petugas`Kebersihan TPS Kobana, Tegallega, Bandung, Mei,2007

 

Berdasarkan hasil wawancara,diperoleh bahwa sebagian besar petugas kebersihan tidak mempunyai gangguan kulit sebelum berprofesi sebagai petugas kebersihan. Tetapi sebagian besar petugas kebersihan mengalami gangguan kulit setelah berprofesi sebagai petugas kebersihan, maka diperkirakan para petugas kebersihan tersebut seba gian besar telah menderita DKI. Namun ada juga yang tidak mengalami gangguan kulit setelah berprofesi sebagai petugas kebersihan. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik, jenis pekerjaan (supir, tidak kontak langsung dengan sampah, dsb.), bekerja dengan menggunakan alat pelindung, dll. Faktor terjadinya DKI di TPS Kobana Tegallega, disamping faktor teknis, dipengaruhi juga oleh sampah organik yang dominan menghasilkan leachate dengan kadar polutan tinggi.

 

Faktor terjadinya DKI, antara lain dipicu oleh :

 

  • Tidak berimbangnya daya angkut sampah dari TPS ”Kobana” Tegallega ke  TPA sampah dengan jumlah sampah yang terkumpul, sering terjadi penumpukan sampah di TPS Kobana” untuk waktu yang lebih lama.
  • Komposisi sampah yang terkumpul di TPS ”Kobana” Tegallega lebih banyak sampah organik sehingga kadar amonium dan COD hasil dekomposisi sampah organik akan meningkat.
  • Umur sampah yang terkumpul di TPS ”Kobana” Tegallega sebagian besar lebih dari 18 jam (amonium akan terbentuk setelah sampah berumur 18 jam dalam kondisi anaerob). Hal ini karena  lamanya perpindahan sampah dari sumber sampah di perumahan yang menuju ke TPS ”Kobana” Tegallega.

 

Kadar amonium dan COD yang sangat tinggi pada leachate, di TPS ”Kobana” Tegallega dapat menjadi faktor penyebab terjadinya DKI petugas kebersihan. Semakin tinggi kadar amonium dan COD leachate, maka semakin besar pula potensi leachate untuk menyebabkan DKI pada petugas kebersihan. Usaha pencegahan terjadinya DKI petugas kebersihan, yaitu :

 

  • Petugas kebersihan diwajibkan menggunakan alat-alat pelindung selama bekerja (sarung tangan, sepatu boot, baju, celana panjang, masker, rompi, dll) sehingga peluang kontak antara leachate  dengan kulit dapat dicegah.
  • Instansi terkait diharapkan menyediakan dan menggantinya alat-alat pelindung lengkap bagi petugas kebersihan secara periodik.
  • Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama agar waktu pengumpulan sampah sece patnya diangkut ke TPA sehingga tidak terjadi tumpukan sampah yang lama di TPS 

 

   

(a). Gangguan pada Leher Belakang

(b). Gangguan pada Pundak

   

(c). Gangguan Tangan 

(d). Gangguan pada Kaki 

Sumber : Yogie Widodo, 2007

Gambar 5. Gangguan Kulit yang Diderita Petugas Kebersihan

di TPS ”Kobana” Tegallega, Mei-2007

 

Potensi Tokoh Lingkungan Dalam Pengelolaan Sampah

 

Keberhasilan pengelolaan sampah oleh masyarakat dalam skala lingkungan memerlukan seorang tokoh yang dapat mengajak masyarakat sekitarnya untuk melakukan pengelolaan sampah secara langsung di lapangan.

 

Contoh prakarsa tokoh lingkungan yang telah berhasil mengajak masyarakat sekitarnya dalam pengelolaan sampah telah dilakukan oleh Ibu Harini Bambang Wahono di Kelurahan Cilandak, DKI Jakarta, demikian juga dengan upaya oleh pemuda Iswantodi Dusun Sukunan, D.I.Yogyakarta

 

Keberhasilan kedua tokoh lingkungan tersebut dalam pengelolaan sampah berkat keuletan yang tidak henti-hentinya mengajak dan memberi contoh ke masyarakat disekitarnya.