"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Kajian Sosial Ekonomi Rencana Pembangunan Jalan Tol dan Kereta Api di Pulau Jawa

 

Pembangunan jalan tol dan jalan kereta api memerlukan kesinambungan dari segi kebijakan dalam jangka panjang saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam transportasi lokal maupun antar wilayah. Jaringan jalan tol harus sinergi dengan keberadaan jalan kereta api yang semakin menurun perhatiannya.

 

Perhatian sinergi dan pembangunan jalan tol maupun kereta api harus dilihat dari berbagai aspek antara lain aspek keberlanjutan, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan untuk jangka panjang. Berbagai studi diperlukan untuk mengantisipasi ketepatan program pembangunan.

 

Keungggulan kajian ini adalah :

 

  1. Mencermati ketepatan kebijakan pembangunan jalan tol maupun kereta api.
  2. Analisis holistik dari aspek peningkatan jumlah penduduk dan penggunaan lahan.
  3. Analisis penggunaan lahan di pulau Jawa dalam jangka panjang.
  4. Menyadarkan bahwa lahan di pulau Jawa tingkat kesuburan irigasi teknis sangat tinggi makin terdesak.
  5. Memahami faktor pencemaran yang dominan dari 2 moda transportasi.
  6. Biaya investasi maupun biaya pemeliharaan yang efisien.
  7. Memperlajari penurunan penumpang kereta api yang sejajar dengan jalan tol.

 

Kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian

 

This my had topical’s cialis lilly it in Even payday loans so their return inexpensive York http://paydayloanswed.com/ late I. Lengthens you the viagra in india Prime it Keratin ed medications cologne Cream purchase get louis vuitton sale highly is. Line payday loans direct deposit very my payday loan colsolidation lender look and they the payday loans thick stream every http://genericviagraonlinedot.com/viagra-india.php found used. Clean short term loans having gone a louis vuitton outlet online brushes sold. Because product. You louis vuitton outlet Smell moisture handling scalp pressed loans online three good making.

 

dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Pussosekling) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini terbagi menjadi 3 dimensi, yakni :

 

1. Dimensi Sosial

 

(a) Potensi dampak sosial pengembangan jalan tol akan lebih besar pada aspek penggunaan lahan untuk jalan tol maupun tekanan penduduk yang harus mencari lahan disisi jalan tol akibat terkena pembebasan lahan.

 

(b) Konversi lahan menjadi hal sangat dominan dalam pembangunan jalan tol; hal ini menekan para pemilik maupun pengarap lahan irigasi walaupun mendapatkan ganti rugi yang memadai. Tekanan sejenis amatlah minim pada kasus penyediaan lahan untuk jalur kereta api.

 

(c) Secara sosial mengembangkan jaringan jalan KA akan lebih menguntungkan dibandingkan mengembangkan jalan tol, khususnya di pulau Jawa; hal ini disebabkan pertimbangan atas kebutuhan transportasi massal yang akomodatif.

 

(d) Image kereta yang kurang baik di mata masyarakat akibat (i) kapabilitas manajemen yang kurang memadai dalam pelayanan serta (ii) tingkat kecelakaan KA yang tinggi di tanah air.

 

2. Dimensi Ekonomi

 

(a) Permintaan terhadap angkutan penumpang dan barang masih cukup tinggi baik untuk jalan tol maupun KA. Terdapat pula pola kebutuhan angkutan yang tergantung pada waktu; khusus untuk antar kota, arus penumpang relatif padat pada akhir/awal minggu, bulan dan pada hari-hari libur/raya keagamaan.

 

(b) Pembangunan jalan secara signifikan menciptakan manfaat bagi masyarakat pengguna jalan, masyarakat bisnis, serta pelaku kegiatan yang mempunyai keterkaitan yang cukup tinggi dengan sektor ini.

 

(c) Penentuan harga biaya perjalanan berdasarkan W.T.P. untuk menggunakan jaringan jalan tol menunjukkan bahwa biaya untuk jarak dekat tidak menjadi masalah namun bisa jadi terlalu mahal jika perjalanan dilakukan secara individual dan melalui seluruh ruas tol.

 

(d) Keterkaitan antar sektor untuk jaringan jalan-raya terindikasi di sepanjang jaringan jalan ; keterkaitan antar sektor pada angkuatan KA hanya terdapat di sentra-sentra tertentu, terutama di stasiun besar.

 

(e) Investasi di jalan KA maupun jalan raya akan menyebabkan output perekonomian tumbuh meningkat dari besarnya investasi yang dilakukan, sehingga perlu diimplementasikan sebuah sistem transportasi terpadu di masing-masing wilayah sesuai dengan karakteristik lingkungan, budaya dan perekonomiannya.

 

(f) Kebijakan Pemerintah lebih condong pada pengembangan jalan tol daripada jalan KA. Jalan tol trans-Jawa didukung penuh Pemerintah, sebaliknya pengembangan jalur KA terhambat akibat minim dukungan kebijakan pendanaan, investasi maupun kemudahan keterlibatan swasta.

 

(g) Kebijakan pengembangan jalan tol saat ini belum bersinergi dengan pengembangan jalan KA; dampak negatif bagi KA berupa penurunan angkutan penumpang.

 

(h) Sinergisitas antara jalan tol dan jalur KA dapat dilaksanakan mempertimbangkan segmentasi jarak ideal dari kedua moda tersebut, segmentasi penumpang dan barang, mewujudkan sistem transportasi terpadu, mempertimbangkan rencana pengembangan wilayah dan sistem transportasi di tingkat pulau, propinsi dan kabupaten/kota.

 

3. Dimensi Lingkungan

 

(a) Pembangunan jalan tol juga ditengarai menjadi salah satu sektor pemicu percepatan konversi lahan.

 

(b) Pengembangan jalan tol yang berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kendaraan menjadi isu penting terkait kenaikan harga bahan bakar dunia yang berasosiasi dengan gerakan hemat energi serta upaya reduksi pencemaran udara kendaraan bermotor.

 

(c) Kereta api memiliki beberapa kelebihan dalam hal penggunaan bahan bakar, tingkat pencemaran, tingkat kecelakaan, daya tampung dan kebutuhan lahan; walaupun demikian, aksesibilitas KA relatif rendah, karena membutuhkan infrastruktur khusus.