"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Pelindung Tebing Sungai Bio Engineering yang Berwawasan Lingkungan

 

Erosi tebing adalah kejadian yang biasa pada sungai aluvial, erosi tersebut menyebabkaan kerusakan yang cukup besar. Pengendali erosi yang  ada kebanyakan berupa bangunan yang mahal, masif dan tidak alami, yang tidak sesuai dengan semangat eko-hydraulik. Karena hal tersebut diatas Balai Sungai sebagai scientific back-bone Direktorat Jenderal SDA, telah mengembangkan teknik pelindung tebing dengan bio-engineering, yaitu kombinasi antara krib bambu dan tanaman. Pelindung tebing tersebut murah, mudah dilaksanakan, menggunakan bahan setempat dan alami sehingga harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Krib bambu tersebut telah diuji coba di beberapa tempat antara lain di Jembatan Tanjung Anau Sumatera Barat, Sungai Tuntang Demak dan di Sragen. Ada 2(dua)  tipe krib yaitu Tipe BWRM (krib tertutup), Tipe Payakumbuh (krib terbuka) serta beberapa variasinya yaitu pada tanah lunak atau pun tanah keras yang memakai perkuatan kayu dolken dengan topi baja. Indikasi keberhasilan adalah terbentuknya endapan yang akan menstabilkan tebing sungai. Selanjutnya di daerah endapan  ditanami jenis tanaman yang tahan genangan, mempunyai batang yang agak kaku dan akar yang cukup kuat, yang akan menggantikan  fungsi krib bambu sebagai penangkap sedimen.

 

  Keunggulan aplikasi bio-engineering

 

Pelindung tebing sungai dengan teknologi sederhana, alami, ramah  lingkungan, dan bersifat soft impact (mempunyai efek peredaman sehingga dampak kearah hulu dan hilir sangat sedikit), serta murah, mudah pelaksanaannya, bahannya mudah didapat, sehingga masyarakat dapat dengan swadaya melindungi tanahnya dari erosi arus sungai.

 Prinsip Kerja

 

Proses terhindarnya tebing sungai dari keruntuhan akibat adanya gerowongan tebing dengan krib bambu dapat diterangkan sebagai berikut:  Karena adanya krib, maka terjadilah perlambatan kecepatan arus sehingga sedimen mengendap di dasar tebing yang tergerus arus sungai, akibat adanya endapan maka bidang lonsor tebing dapat diputus.

 

 Kriteria Desain

 

  1. Kecepatan arus  < 2 m/detik
  2. Arus sungai membawa angkutan sedimen
  3. Cerucuk bambu untuk krib bambu dipilih yang cukup tua, dari jenis yang kuat/ tebal/ tidak mudah pecah jika ditancapkan.
  4. Cerucuk bambu  harus tertanam di tanah minimum 1/3 panjang

Peluang Investasi dan Biaya Operasional.

Bio-engineering adalah pelindung tebing yang murah, mudah pelaksanaannya dan bahannya mudah didapat, sehingga masyarakat dapat dengan swadaya melindungi tanahnya yang tererosi arus sungai.