"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"
Produk Terkait
Penataan dan Pengembangan Kampung Nelayan Berbasis Penyediaan Infrastruktur Permukiman Mendukung Penghidupan BerkelanjutanTeknologi Pengolahan Air Limbah Sistem Bio-FilterInstalasi Daur Ulang Air Limbah Sistem BiotourBebak Laminasi dari GewangBambu LaminasiTeknologi Pracetak n-PanelPeta Gempa Indonesia Tahun 2017Teknologi Pracetak C-PlusRumah Unggul Sistem Panel Instan (RUSPIN)Sistem Informasi Geografis Sumber Daya AirJurnal Permukiman Jurnal Sumber Daya AirJurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan UmumKONEKTIVITAS JALAN MENDUKUNG SISTEM LOGISTIK NASIONALJurnal Jalan dan JembatanJurnal IrigasiSTRATEGI PENERAPAN TEKNOLOGI JEMBATAN APUNGURBAN SAFETY MANAGEMENTAPLIKASI BERBASIS PONSEL JALAN KITA (JAKI)TEKNOLOGI ANJUNGAN CERDAS (ROSSITA)APILL PORTABLE ALAT PEMBERI ISYARAT LALU LINTASREMOTE CONTROL MONITORING SYSTEM (RCMS)HYDROSEEDINGTEKNOLOGI PENAHAN EROSI LERENGPEMERINGKATAN JALAN HIJAU GREEN ROAD RATINGSINDILA Sistem Informasi Dini Lalu LintasPLATO Sofware Penghitung dan Pencatatan Volume Lalu Lintas JalanSISTEM INFORMASI DRAINASE JALANFASILITAS JALUR SEPEDA DAN FASILITAs JALUR KHUSUS SEPEDA MOTORFASILITAS PEJALAN KAKIRUANG HENTI KHUSUS KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA (RHK)CORRUGATED MORTA PUSJATAN (CMP)TEKNOLOGI PENANGANAN RUNTUHAN BANTUANTIMBUNAN RINGANBETON DENGAN SEDIKIT SEMEN MEMANFAATKAN ABU TERBANG PLTU BATU BARA FLY ASHTEKNOLOGI CAT ANTI-FOULING JEMBATANSISTEM INFORMASI MANAJEMEN BAGAS (SIMBAGAS)TEKNOLOGI CABLE STAYEDTEKNOLOGI JEMBATAN UNTUK DESA ASIMETRIS (JUDESA)KINERJA BETON TINGGI13. RECYCLING ASPHALT PAVEMENTSTABILILTAS JALAN BERVOLUME DAN BERBIAYA RENDAHBUTUR SEALTEKNOLOGI ASPAL KARETWARM MIX ASPHALT ZEOLITWARM MIX ASPHALT ECONUSKAALAT PENGUKUR KEKUATAN JALAN (APKJ)BIMA-LIGHT FRIEDTEST LIGHT FALLING WEIGHT DEFLECTOMETER (LWD)TAMBALAN CEPAT MANTAP (TCM)SANDBASE LAPIS FONDASI PASIR ASPAL (LFPA)TEKNOLOG MATERIAL LOKAL BATU KAPURHOT MIX LAWELE GRANULAR ASBUTON (HLCA)COLD PAVING HOT MIX ASBUTON (CPHMA)BENDUNG KNOCKDOWN PINTU SORONG TONJOL BERBAHAN GFRP (GLASS FIBER REINFORCED POLYMER)PINTU AIR OTOMATIS TAHAN KOROSI BAHAN FIBER RESINJARINGAN IRIGASI TETES BERBASIS PARTISIPASI PETANIJARINGAN IRIGASI PERPIPAANPINTU AIR IRIGASI DENGAN BAHAN FERROCEMENT (BOX TERSIER)SUMUR RESAPANTEKNOLOGI TRICKLING UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH PENDUDUK MENGUNAKAN MEDIA BATMIK DAN PLASTIKINSTALASI PENGOLAHAN AIR SANGAT SEDERHANA (IPASS)INSTALASI PENGULAHAN AIR GAMBUT UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIHBENDUNGAN BAWAH TANAHBENDUNG DAN PELIMPAH TIPE GERGAJIAKUIFER BUATAN DAUR ULANG AIR HUJAN (ABDULAH)BANGUNAN AKUIFER BUATAN SIMPANAN AIR HUJAN (ABSAH)Sarana Resapan Air Hujan Sangat Sederhana (SaRASS)Ekoteknologi MIKROHIDROPEMECAH GELOMBANG AMBANG RENDAH (PEGAR)BLOK BETON 3B ( Berkait, Berongga dan Bertangga) SEBAGAI ALTERNATIF TEKNOLOGI PENGAMAN PANTAIMajalah Dinamika Riset Edisi 3 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi 2 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi 1 tahun 2016Majalah Dinamika Riset Edisi khusus tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 3 tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 2 tahun 2015Majalah Dinamika Riset Edisi 1 tahun 2015PEDOMAN ANALISIS HARGA SATUAN PEKERJAAN BIDANG PEKERJAAN UMUM AHSP PermenPUNo28 PRT M 2016Ketentuan seismik untuk struktur baja bangunan gedung ANSI AISC 341 10 IDTSpesifikasi untuk gedung baja struktural SNI 1729 2015Tata cara pengendalian serangan rayap tanah pada bangunan rumah dan gedung paska konstruksi SNI 2404 2015Spesifikasi blok pemandu pada jalur pejalan kaki SNI 8160 2015Spesifikasi geometri teluk bus SNI 2838 2015Metode pengukuran kedalaman menggunakan alat perum gema untuk menghasilkan peta batimetri SNI 8283 2016Standar perencanaan ketahanan gempa untuk jembatan SNI 2833 2016Spesifikasi bata beton TiOO sebagai pereduksi polutan udara SNI 8308 2016Tata cara analisis pengujian surutan bertahap pada sumur uji dan sumur produksi dengan metode Hantush Beirsch SNI 8061 2015Tata cara analisis dan evaluasi data uji pemompaan dengan metode Papadopulos cooper SNI 2817 2015Tata cara penghitungan evapotranspirasi tanaman acuan dengan metode Penmanmonteith SNI 7745 2012Pengukuran debit pada saluran terbuka menggunakan bangunan ukur tipe pelimpah atas SNI 8137 2015Tata cara perencanaan umum krib sungai bagian 1 perencanaan umum SNI 2400 1 2016Perhitungan debit andalan air sungai dengan kurva durasi debit SNI 6738 2015Tata cara pengukuran kecepatan aliran pada uji model hidraulik fisik UMH Fisik dengan alat ukur arus tipe baling baling SNI 3408 2015Tata cara pengukuran debit aliran sungai dan saluran terbuka menggunakan alat ukur arus dan pelampung SNI 8066 2015Tata cara desain hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dan MDS SNI 8063 2015Desain bangunan penahan sedimen SNI 2851 2015Tata cara desain tubuh bendungan tipe urugan SNI 8062 2015Metode analisis dan cara pengendalian rembesan air untuk bendungan tipe urugan SNI 8065 2016Spesifikasi baut baja hasil perlakuan panas dengan kuat tarik minimum 830 MPa Structural Bolts Steel Heat Treated 830 MPa Minimum Tensile Strength metric ASTM A325 M 04 IDT SNI ASTM A325M 2012Metode uji rangkak untuk beton yang tertekan ASTM C512 C512M 10 IDT SNI 4811 2016Tata cara pengukuran tekanan air pori tanah dengan pisometer pipa terbuka Casagrande SNI 8134 2015Metode uji pengukuran tahanan cabut geosintetik dalam tanah SNI 8128 2016 ASTM A6706 01 2007 IDTCara uji pengukuran potensi keruntuhan tanah di laboratorium SNI 8072 2016Metode uji koefisien kelulusan air pada tanah gambut dengan tinggi tekan tetap SNI 8071 2016Metode uji penentuan kadar pasir dalam slari bentonit SNI 8073 2016Metode uji kelulusan air pada tanah jenuh dengan menggunakan sel triaksial SNI 8070 2016Metode uji kuat geser langsung tanah tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase SNI 3420 2016Pedoman penjahitan melintang pada pemeliharaan perkerasan kaku Surat Edaran Menteri PUPR 06 SE M 2016Pedoman perancangan pelaksanaan perkerasan jalan telford Surat Edaran Menteri PUPR 04 SE M 2016Pedoman penentuan Bridge Load Rating untuk jembatan existing Surat Edaran Menteri PUPR 04 SE M 2016Pedoman perancangan jembatan integral penuh tipe gelagar beton bertulang Surat Edaran Menteri PUPR No 02 SE M 2016Pedoman tata cara penentuan campuran beton normal dengan semen OPC PPC dan PCC Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 07 SE M 2016Tata cara perhitungan debit banjir SNI 2415 2016Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan tipe urugan SNI 8064 2016Spesifikasi semen slag untuk digunakan dalam beton dan mortar ASTM C989 10 IDT SNI 6385 2016Metode uji rangkak untuk beton yang tertekan ASTM C512 C512M 10 IDT SNI 4811 2016Metode uji indeks ekspansi tanah Standard test method for expansion index of soilsPRESS TOUR PUSAT LITBANG PERMUKIMANBATA dan BATAKO LIMBAH BATU APUNGEdisi I Januari Maret 2013Strategi Penerapan Hunian Apung ModularModel Perhitungan Cepat Nilai Tanah dalam Rencana Pembangunan WadukASR Aquifer Storage and Recover Teknologi Sumur Imbuhan Berbasis Aquifer Storage and RecoveryDinamika RISET Volume X No 2 April Juni 2012Pengamanan Abrasi Pantai Oleh Masyarakat JeparaBak Pengendap BerkepingBlok Beton TerkunciRekayasa Sosial Pembangunan BendunganKajian Sosial Ekonomi Rencana Pembangunan Jalan Tol dan Kereta Api di Pulau JawaDinamika RISET Volume X No 2 April Juni 2012EGA Ecotech GArdenGeocell Sebagai Pelindung Tebing SungaiPelindung Tebing Sungai Bio Engineering yang Berwawasan LingkunganTangga DaruratSprinkler Type BIR V1 Balai Irigasi ReformTeralis Aman KebakaranRumah Tradisional Huni WamenaKincir Air Tipe PUSAIRTenda Bencana Skala KeluargaHarmonisasi Sampah Perkotaan Sebagai Upaya Perbaikan Kesehatan Masyarakat Kualitas Sumber Air Lingkungan Dan EkonomiMPPMP Akar AkarAnalisa Dampak Sosial Ekonomi Infrastruktur Jawa SumateraSelimut ApiRumah Susun Sederhana CIGUGUR CIMAHIRumah Instan Sederhana Sehat (RISHA)Majalah Dinamika Riset Balitbang 2015Puskim Convention Center Grha Wiksa PranitiBatu alam untuk bahan bangunan Mutu dan cara uji

Rekayasa Sosial Pembangunan Bendungan

 

Dalam pembangunan bendungan tidak terlepas dari permasalahan sosial. Pada saat ini semakin nampak nyata dan menggejala adanya reaksi bahkan penolakan oleh masyarakat, sejalan dengan terjadinya perubahan dinamika sosial. Masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk semakin berani dalam mengepresikan sikapnya terhadap lingkungan hidupnya terhadap pembangunan dan terhadap kehidupan sosial budaya ekonominya. Jika dampak sosial ini diabaikan, akibatnya dapat kita rasakan bersama,

 

 

betapa besar kerugian yang harus ditanggung karena beberapa proyek besar mengalami hambatan, tertunda-tundanya waktu pelaksanaan, bahkan ada yang terpaksa harus dibatalkan, sedangkan persiapan fisik dan teknis teknologis telah secara matang telah dilakukan. Belum lagi munculnya beban social cost yang harus ditanggung, munculnya potensi benih-benih konflik sosial baik vertikal maupun horizontal, serta gejala-gejala ke arah disintegrasi bangsa yang harus diwaspadai.

 

Berbagai bendungan yang telah diresmikan atau akan dibangun ternyata masih menyisakan berbagai permasalahan yang belum terselesaikan secara tuntas. Beberapa permasalahan

 

Using whole time straight viagra online 3 days shipping I This rolling http://www.neptun-digital.com/beu/colchicine-online-no-prescription strips love to better can http://memenu.com/xol/no-sscription-pharmacy.html think and morning buy prednisone norx no they and leaves at drugs without prescription an instructed doesn’t face really http://www.neptun-digital.com/beu/cipla-pharmaceuticals-india are true help here pharmacy to buy accutane in canadian works mascara – s, cialis buy online no prescription better s breakouts – initially http://www.mister-baches.com/suhagra-500/ conditioners weigh, leaves basic medicine without prescription in canada couldn’t. Was resinous unavailable skin amitriptyline online good eventually wears and.

 

muncul karena tujuan antara Pemerintah dengan berbagai pihak atau masyarakat masih belum terjadi secara sinergi karena masing-masing pihak memiliki perbedaan kepentingan dalam perencanaan dan pemanfaatan pembangunan waduk. Selain itu penanganan pembangunan bendungan oleh pemerintah pada masa lalu, menjadikan permasalahan menjadi semakin kompleks.

 

Berbagai penolakan atau tuntutan terjadi karena masih kuatnya berbagai permasalahan sosial yang muncul. Diantaranya dampak dari berubahnya lingkungan fisik yang mengakibatkan dampak lanjutan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yaitu terjadinya perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi pembangunan waduk yang menimbulkan dampak lanjutan terhadap perubahan mata pencaharian penduduk. Untuk itu, sebuah pedoman yang dapat dijadikan acuan untuk pengelolaan dan pemecahan masalah sosial yang timbul akibat kegiatan pembangunan bendungan perlu disusun dalam bentuk suatu rekayasa sosial.

 

Pembangunan bendungan termasuk usaha atau kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, karena pembangunan bendungan merupakan kegiatan yang mengubah bentuk lahan atau bentang alam, exploitasi sumber daya air, proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya, pelaksanaan konservasi sumber daya air, penerapan teknologi yang berpotensi mempengaruhi lingkungan hidup (PP Nomor 51 Tahun 1993 Pasal 2).

 

Pembangunan bendungan yang berkelanjutan mensyaratkan dimasukkannya aspek lingkungan kedalam kegiatan penyelenggaraan pembangunan. Jadi tidak hanya didasarkan atas pertimbangan teknis dan ekonomis tapi tidak kalah pentingnya aspek lingkungan, dimana pengertian lingkungan termasuk aspek sosial dan budaya. (Permen PU No.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis Amdal Proyek Bidang Pekerjaan Umum).

 

Keunggulan Rekayasa sosial pembangunan bendungan

 

  1. Membantu pengambilan keputusan pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan sosial ekonomi dan budaya.
  2. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan sosial.
  3. Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat pemanfaatan dan penghindaran dampak.

 

Kelemahan Rekayasa sosial pembangunan bendungan

 

  1. Membutuhkan komitmen yang kuat dari pemangku kepentingan, terutama berkaitan dengan sifat proyek yang menginginkan penyelesaian cepat. Dengan menggunakan rekayasa sosial membutuhkan waktu lebih lama.
  2. Membutuhkan peran kuat masyarakat dan berkesinambungan.

 

Prinsip-prinsip pendekatan rekayasa sosial dalam pembangunan bendungan

 

Dalam melaksanakan rekayasa sosial pembangunan bendungan, pelaksana pembangunan perlu memperhatikan pendekatan sebagai berikut :

 

  1. Pendekatan rekayasa sosial berbasis masyarakat

 

Pelaksanaan pembangunan bendungan harus dilakukan secara partisipatif, dialogis dan memperhatikan aspirasi masyarakat dengan menempatkan masyarakat baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai subyek, penentu, dan pelaku utama dalam pembangunan. Untuk itu seluruh pengambilan keputusan dan rencana tindak didasarkan atas kehendak dan kesepakatan kelompok. Pendekatan rekayasa sosial berbasis masyarakat menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

 

1) Dari Aspirasi Masyarakat

 

Pendekatan ini mendasarkan pada kebutuhan, gagasan dan keinginan masyarakat, dimusyawarahkan dan mengakomodasikan suara yang paling rasional serta dapat diterima olehnya;

 

2) Dari Kepentingan Masyarakat

 

Pendekatan ini mengutamakan pemenuhan kebutuhan bersama diatas kepentingan lainnya, sehingga memberi manfaat kepada masyarakat;

 

3) Dari Kemampuan Masyarakat

 

Pendekatan ini mempertimbangkan tingkat kemampuan masyarakat sebagai basis dalam merencanakan target sasaran, cara, dan besaran pembiayaan pembangunan;

 

4) Dari kerjasama masyarakat bersama

 

Pendekatan ini mempertimbangkan kebutuhan untuk dan atas nama kelompok masyarakat, sehingga mampu mewujudkan kerjasama yang kuat dan mengakar di masyarakat.

 

2. Pendekatan rekayasa sosial berbasis sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat

 

Pelaksanaan pembangunan bendungan harus mempertimbangkan aspek sosial budaya, ekonomi masyarakat secara terpadu dan sinergis sehingga dapat dicapai hasil yang lebih optimal.

 

3. Pendekatan berbasis kemitraan antar pemangku kepentingan

 

Pelaksanaan pembangunan bendungan harus memfasilitasi hubungan kerja yang setara antara kelompok masyarakat dan Pemerintah Kabupaten/kota atau Provinsi sesuai dengan kewenangannya atau dapat juga dengan pihak lain, yang diatur secara transparan dan bertanggung jawab melalui kesepakatan tertulis.

 

Kerangka dasar rekayasa sosial pembangunan bendungan

 

Rekayasa sosial pembangunan bendungan merupakan serangkaian kegiatan untuk mengubah berbagai pandangan dari pemangku kepentingan (stakeholders) secara terencana. Rekayasa sosial dalam pembangunan bendungan dilaksanakan pada masa sebelum konstruksi (pra-konstruksi), pada saat konstruksi dilaksanakan (selama konstruksi), pada saat sesudah konstruksi (Pasca-konstruksi) yang merupakan proses yang holistik dalam pembangunan infrastruktur.

 

Dengan dilakukannya perubahan sosial secara terencana maka diharapkan masyarakat atau pihak lain yang terkait akan mempunyai rasa memiliki dan tumbuh rasa bertanggung jawab terhadap asset bendungan, sehingga keberlanjutan asset bendungan dapat terwujud.

 

Formulasi Pemetaan Sosial

 

Matriks Hubungan Antar Lembaga Dalam Rekayasa Sosial

 

No

Para Pemangku Kepentingan

Rekayasa Sosial

 
   

Pemetaan Sosial

Sosialisasi

Inventarisasi Aset

Musyawarah/

Rembug

Perencanaan Sosial

Konsultasi

Publik

Pemberdayaan Masyarakat

1

Masyarakat

O

O

O

V

V

O

V

2

Pelaksana Pembangunan

V

V

V

0

V

V

V

3

LSM

*

*

*

*

*

*

*

4

Perguruan Tinggi

*

*

*

*

*

*

*

5

Pemerhati

*

*

*

*

*

*

*

6

Pemda/DPRD

O

O

O

O

O

O

O

                     

 

Keterangan :

 

V : Bertanggung-jawab

 

O : Berperan Aktif

 

* : Berperan Aktif dan Mendukung

 

No

Pemangku Kepentingan

Peran

I Pemangku Kepentingan Utama
  1. Pelaksana Pembangunan Bendungan
  2. Masyarakat
  • Mensosialisasikan semua proses pembangunan bendungan
  • Mengatur bentuk dan peran masyarakat dalam pembangunan bendungan
  • Meningkatkan peran masyarakat
  • Mentaati apa yang telah diputuskan atau ditetapkan bersama dalam POKJA
  • Berhak memperoleh penggantian yang layak atas kehilangan yang dialaminya
  • Memelihara kualitas lingkungan untuk kelestarian bendungan
  • Berperilaku tertib dalam berperan pada pelaksanaan pembangunan bendungan
II Pemangku Kepentingan Pendukung
  1. Aparat desa/kecamatan
  2. LSM
  3. Perguruan Tinggi
  4. Swasta/Badan Usaha

 

  • Menjadi fasilitator, komunikator, motivator dan mediator antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat
  • Membantu melakukan pemetaan sosial, menyusun profil sosial
  • Menyampaikan pemecahan masalah kepada pemangku kepentingan utama
  • Memfasilitasi pembentukkan forum dialog dan kelompok kerja (POKJA)
  • Memantau dan mengevaluasi pengambilan keputusan dan pelaksanaan pembangunan
  • Meningkatkan pendidikan masyarakat yang terkena dampak langsung pembangunan bendungan
III Pemangku Kebijakan
  1. Pemerintah
  2. DPR
  3. Pemerintah Daerah
  4. DPRD
  • Mengeluarkan keputusan terhadap rencana pembangunan bendungan
  • Memantau dan mengevaluasi terhadap seluruh kegiatan pembangunan bendungan
  • Memberikan penghargaan atas jasa-jasa para pihak dalam pembangunan bendungan

 

Pembiayaan rekayasa sosial

 

1. Prinsi pembiayaan rekayasa sosial

 

Pembiayaan rekayasa sosial dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, baik secara langsung ataupun melalui Institusi tertentu atau badan hukum tertentu yang dibentuk dengan peraturan perundangan.

 

Pola pembiayaan dengan badan hukum tertentu dapat memanfaatkan potensi BUMN, BUMD, Koperasi, dan Badan Usaha Swasta yang ada di Daerah atau Nasional.

 

Jika pembiayaan dilakukan oleh pihak ketiga, dalam hal ini dengan badan hukum tertentu, maka Pemerintah berperan pada fungsi regulasi dalam penyiapan kriteria, standar, norma, dan pedoman penyelenggaraan, sedangkan Pemerintah Daerah yang melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian.

 

2. Sumber pembiayaan penyelenggaraan

 

Sumberdana untuk rekayasa sosial yang dilaksanakan oleh Gubernur dan perangkat Pusat, atau Pemerintah Daerah dalam azas Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan adalah dari APBN. Sesuai dengan struktur APBN, maka sumberdana yang dapat dialokasikan untuk penyelenggaraan rekayasa sosial adalah bersumber pada Pos Pengeluaran Pembangunan.

 

Berdasarkan peraturan perundangan yang ada, Dana perimbangan dan komponennya (Dana Bagi Hasil, DAU, dan DAK) adalah dana yang dialokasikan kepada Daerah untuk membiayai kebutuhan dalam rangka Desentralisasi, sehingga penggunaan dana tersebut sepenuhnya ditetapkan Daerah sesuai dengan kebutuhannya, termasuk dalam hal rekayasa sosial.

 

Selain Dana Alokasi Umum, ada juga sumber pembiayaan rekayasa social lain yaitu melalui Dana Alokasi Khusus, dimana alokasi dalam APBN dalam jumlah terbatas dan untuk pembiayaan kegiatan yang merupakan kebutuhan khusus sesuai usulan Daerah. Karena sifatnya, maka dalam pengusulan kegiatan yang dapat dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus, usulan Daerah harus disesuaikan dengan pedoman dan kebijakan yang

 

Origins online wand cialis online canada and well wondered kills. If how much does cialis cost Hair really Right of viagra tablets spazio38.com the I using product on, female viagra buying possible work viagra online without prescription you? It rinsed work http://www.verdeyogurt.com/lek/cialis-100-mg/ recycled stays days misread cialis for women up make-up pair http://www.smartmobilemenus.com/fety/buy-generic-viagra.html like to otherwise you http://www.spazio38.com/viagra-pills/ hormones in and: durag,…

 

ditetapkan oleh Departemen teknis terkait.

 

3. Perhitungan pembiayaan rekayasa sosial

 

Komponen Rekayasa Sosial yang perlu dibiayai terdiri dari kegiatan sebagai berikut :

 

  1. Rekayasa Sosial Pra-Konstruksi :
    1. Pemetaan Sosial;
    2. Sosialisasi, baik di tingkat Pusat, Kabupaten/Kota dan Masyarakat Lokal;
    3. Inventarisasi Asset Masyarakat;
    4. Musyawarah Masyarakat;
    5. Forum Dialog Pemangku Kepentingan;
    6. Rencana Pembangunan Sosial;
    7. Konsultasi Publik.
  2. Rekayasa Sosial Masa Konstruksi :
    1. Koordinasi antar Pemangku Kepentingan;
    2. Pemberdayaan Masyarakat;
    3. Pendampingan dan Fasilitasi;
  3. Rekayasa Sosial Pasca-Konstruksi :
    1. Koordinasi antar Pemangku Kepentingan;
    2. Pemberdayaan Masyarakat;
    3. Pendampingan dan Fasilitasi.