"HADIRKAN SOLUSI, SEIRING INOVASI"

Strategi Penerapan Teknologi Sumber Daya Air Mendukung Penanganan Lahan Kering

Teknologi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) belum banyak diaplikasikan pada lahan kering padahal mampu meningkatkan produktivitas komoditas tertentu. Sebagai contoh budidaya tebu dapat ditingkatkan produktivitasnya sebesar 100% (dari 60 menjadi 120 ton dengan menggunakan teknologi JIAT. Kebijakan saat ini yang berkaitan dengan penerapan teknologi JIAT adalah Permendagri no. 20 tahun 2010 tentang pemberdayan masyarakat melalui pengelolaan teknologi tepat guna. Kebijakan ini terbukti tidak efektif di level implementasi yang diakibatkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Belum mengatur tentang bagaimana masyarakat mengadopsi teknologi tepat guna (TTG), hal ini tercermin dari Permendagri no. 20 tahun 2010 yang tidak memuat hal ini
  • TTG hanya membantu proses produksi namun yang menjadi permasalahan adalah mengkaitkan proses produksi tersebut dengan akses ke pasar. PerMen tersebut perlu disempurnakan untuk prioritisasi implementasi TTG.

Penerapan TTG juga belum diantisipasi dalam peratuan yang terkait dengan pola – pola kemitraan. Peraturan yang terkait tersebut perlu disempurnakan.
Inilah policy gap yang ditemu kenali di dalam riset tentang strategi penerapan teknologi JIAT dalam mendukung pengembangan lahan kering, dengan mengambil sampel di desa Doropeti dan Sori Tatanga Kec. Pekat Kab Dompu NTB yang dilakukan pada tahun anggaran 2016. Komoditas yang diobservasi adalah tebu. Dua analisis yang digunakan penelitian ini analisis kesiapan pemangku kepentingan dan analisis pola kemitraan yang menjadi dasar perumusan strategi penanganan. Untuk mengatasi situasi dan kondisi di atas maka dibutuhkan penyempurnaan terhadap peraturan terkait.

Pengembangan kebijakan

Solusi untuk menyempurnakan kebijakan terkait saat ini agar teknologi tepat guna (TTG) dapat diadopsi dengan efektif adalah kebijakan tentang subsidi investasi JIAT, kebijakan penanganan kesiapan masyarakat dan kebijakan tentang pola kemitraan.
Kebijakan mengenai subsidi investasi JIAT berupa sumur bor yang dapat melayani luasan tertentu dan jaringan pemipaan irigasi air tanah mengikuti kebutuhan petani. Sementara, kebijakan penanganan kesiapan masyarakat meliputi proses FGD, Forum bersama, sekolah lapangan dan dilengkapi dengan Business Plan. Dua kebijakan ini tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya kebijakan tentang pola kemitraan yang saling menguntungkan dan saling berkelanjutan. Interaksi ketiga kebijakan ini diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas budidaya komoditas tertentu pada lahan kering.