Slide 1

Berita PUPR > Penjajakan Kerjasama Penerapan Teknologi Recycling Concrete dengan Uni Eropa


Jumat, 09 November 2018, Dilihat 7 kali

Workshop Precast PT. Waskita Beton Precast di Praya Lombok Tengah

Menindaklanjuti hasil pertemuan antara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M. Basuki Hadimuljono dengan delegasi Uni Eropa yang dipimpin oleh Komisioner Uni Eropa Bidang Lingkungan, Maritim, dan Perikanan, Karmenu Vella di kantor Kementerian PUPR, Jakarta pada tanggal 26 Oktober 2018, Badan Litbang PUPR melalui Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi melakukan kunjungan lapangan sekaligus berdiskusi intensif dengan Petr Marek, Direktur Pengembangan Bisnis ERC-Tech (Effective Recycling Concrete Technology) selama 2 (dua) hari pada 7 s/d 8 November 2018 di Lombok.

Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Kerjasama FX Hermawan Kusumartono dan Kepala Sub Bidang Kajian Kebijakan Adji Krisbandono mendampingi Petr Marek mengobservasi puing-puing sisa reruntuhan bangunan (construction and demolition waste/C & DW) di Kab. Lombok Utara. Tidak hanya itu, mereka juga mengunjungi lokasi workshop precast PT. Waskita Beton Precast di Praya untuk mengetahui kondisi eksisting fasilitas produksi yang dimiliki anak perusahaan PT. Waskita Karya (Persero) tersebut, mulai dari concrete mixing plant, silo, carmix, dll. Hal ini dilakukan dalam rangka penjajakan penerapan teknologi recycling concrete dengan sumber C & DW yang berasal dari Lombok dan sekitarnya. Semua sisa reruntuhan bangunan yang ada cukup dilebur menjadi satu dengan alat penghancur (crusher), untuk kemudian diolah menggunakan fasilitas eksisting (setelah dilakukan modifikasi minor alat-alat tersebut terlebih dahulu).

Tawaran peluang kerjasama yang telah disambut baik oleh Menteri Basuki ini akan dipertajam kembali dengan membahas lebih detail mengenai lingkup kerjasama, yang antara lain mencakup : riset dan pengembangan, pengujian di laboratorium Badan Litbang, mengembangkan guidelines, standards, and specifications, hingga menyiapkan business model dan pilot project.

Dengan hadirnya teknologi baru ini, dapat dipastikan industri konstruksi di Indonesia akan berubah. Tidak hanya dari sisi industri, tetapi juga dari sisi supply material. Dengan penggunaan C & DW, kita dapat menghemat input sumberdaya (semen, pasir, kerikil, dll) sebagai bahan utama beton. Secara otomatis, berkurang pula risiko dampak lingkungan akibat gunung kapur dan kerikil/pasir yang ditambang. Apabila terdapat banyak supply C & DW, seperti misal sisa-sisa puing bangunan pascagempa di Lombok dan Palu, semakin banyak pula jumlah produksi recycled concrete untuk digunakan kembali dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi (mengacu pada prinsip-prinsip circular economy). Dan dari sisi kebijakan/regulasi, sudah selayaknya kita mulai memperhatikan aspek umur layan bangunan. Bangunan-bangunan, baik gedung maupun rumah tinggal yang sudah melewati umur layan juga harus di-demolish atau di-retrofit. Semata-mata demi kenyamanan dan keamanan kita sebagai pengguna bangunan gedung (adji).