Slide 1

Berita PUPR > FGD Peluang Pasar, Industrialisasi, dan Rantai Pasok Teknologi IPA GAMBUT


Selasa, 13 Agustus 2019, Dilihat 141 kali

FGD Peluang Pasar, Industrialisasi, dan Rantai Pasok Teknologi IPA GAMBUT FGD Peluang Pasar, Industrialisasi, dan Rantai Pasok Teknologi IPA GAMBUT

Air Bersih merupakan kebutuhan dasar manusia, selain untuk keperluan MCK, air bersih juga menjadi air baku untuk air minum, sehingga keberadaannya sangatlah penting bagi masyarakat. Kebutuhan air bersih semakin meningkat seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk. Permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan air bersih selain dari kuantitas juga dari segi kualitas. Hal ini terlihat pada daerah-daerah yang tidak memiliki sumber air atau yang memiliki sumber namun dengan kualitas yang tidak memenuhi syarat seperti wilayah gambut. Luas lahan gambut di wilayah Indonesia diperkirakan antara 15 - 20 juta Ha. Persebaran lahan gambut berada di pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Penduduk yang tinggal di atas lahan gambut tersebar mulai dari provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan sebagainya.

Untuk menjawab tantangan penyediaan air bersih di wilayah gambut, Puslitbang Perumahan dan Permukiman telah melakukan berbagai inovasi teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut. Salah satu teknologi IPA Gambut yang tengah di kembangkan adalah IPA Gambut Sistem Media Kontak Bertekanan (SMKT). Untuk memastikan teknologi IPAG-SMKT ini telah siap untuk diterapkan diberbagai lokasi yang lain maka Puslitbang KPT melakukan kajian Kesiapterapan Teknologi IPA Gambut dengan tujuan tersusunnya seluruh dokumen teknis yang dibutuhkan dan merumuskan dokumen rencana bisnis yang dapat menjadi acuan semua calon pengguna dalam menerapkan teknologi IPA Gambut di wilayah kerja masing-masing.

Sebagai bagian dari kajian kesiapterapan, pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 Puslitbang KPT menyelenggarakan FGD dengan topik Peluang Pasar, Industrialisasi, dan Rantai Pasok teknologi IPA Gambut. Maksud FGD tersebut untuk memperoleh data dan informasi yang valid mengenai permintaan (demand) akan teknologi IPA gambut dan menjajagi minat dari pihak aplikator (supply) untuk dapat memproduksi teknologi IPA gambut yang telah dihasilkan oleh Balitbang PUPR. Dalam FGD tersebut, Puslitbang KPT telah mengundang beberapa pemangku kepentingan antara lain Satker SPAM Strategis, BPPW Provinsi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, Pemerintah Daerah dan PDAM di 9 Kabupaten / Kota yang memiliki permukiman di atas lahan gambut, serta beberapa aplikator yang telah tersertifikasi Puslitbang Perumahan dan Permukiman.

Peneliti IPA Gambut dari Pusperkim R. Mukti Budiman mengatakan teknologi IPA Gambut SMKT ini mengkombinasikan 2 pengolahan sehingga selain menjadi air bersih juga menghasilkan air layak minum. Penggabungan pengolahan air layak minum menggunakan RO ditujukan untuk menutup biaya operasional dengan hasil penjualan air minum dalam kemasan. Menurutnya hasil penjualan air minum dapat digunakan untuk mengembalikan biaya investasi pengadaan alat sebesar Rp.271.000.000,-. Selanjutnya paparan potensi peluang pasar disampaikan oleh Nino Heri Setyoadi selaku ketua tim Peneliti Kesiapterapan Teknologi IPA Gambut, disampaikan dalam paparannya berdasarkan kajian data spasial wilayah permukiman di atas lahan gambut terdapat di 37 kabupaten/kota di 5 provinsi di Indonesia. Fokus diskusi ini diharapkan mampu menangkap isu kebutuhan air bersih yang terdapat di berbagai daerah, sehingga pemerintah dapat memetakan potensi penerapan teknologi IPA yang akan digunakan sebagai rekomendasi kebijakan sebelum teknologi ini siap untuk di launching.

Menurut perwakilan dari BPPW provinsi Kalimantan Tengah, potensi penerapan teknologi ini sangat besar, terlebih karena luasnya wilayah gambut di Indonesia dan belum adanya teknologi pengolahan air gambut yang secara masal diterapkan. Selain itu, Air Payau juga menjadi tantangan sendiri bagi beberapa daerah. Namun, ia juga menuturkan agar teknologi ini semkain siap untuk diterapkan perlu adanya upaya standarisasi untuk teknologi IPA Gambut ini. Pihaknya juga menyampaikan siap untuk berkolaborasi dengan Balitbang Kementerian PUPR untuk mensukseskan upaya penyediaan air bersih bagi masyarakat khususnya di wilayah gambut. Isu tersebut disambut baik oleh Dinas Perkimtan Kabupaten Banyuasin yang membenarkan kebutuhan inovasi teknologi penyediaan air bersih dengan kualitas baik bagi masyarakat. Pasalnya sudah lebih dari 50 tahun masyarakat transmigrasi khususnya di daerah gambut, pasang-surut dan pesisir Banyuasin masih memiliki ketersediaan dalam akses air bersih hingga saat ini. Sehingga pihaknya mengharapkan adanya terobosan besar untuk program penyediaan air bersih di lahan gambut dengan teknologi yang bersifat masif dan efektif. M. Wahabi sebagai perwakilan PusKPT menambahkan bahwa permasalahan-permasalahan dan harapan yang disampaikan perwakilan Pemerintah Daerah tersebut menjadi tantangan bagi Pusperkim untuk menjadikan teknologi IPA Gambut ini menjadi teknologi yang siap terap.

Fitrijani A selaku Kepala Balai Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Permukiman dari Pusperkim menambahkan bahwa teknologi yang dikembangkan skala litbang saat ini masih tergolong kapasitas kecil, sehingga ia mengharapkan dukungan dari aplikator untuk turut serta mengembangkan teknologi pengolahan air gambut ini menjadi lebih besar sehingga mampu memenuhi kebutuhan pemerintah daerah. Kedepan pihaknya akan terus melakukan litbang pada teknologi ini sehingga dapat di scale-up lebih cepat dan dapat distandarisasikan. Beberapa aplikator / pabrikan IPA juga mengeluhkan sulitnya pengolahan air gambut menjadi air bersih ditengah-tengah kebutuhan akan teknologi tersebut yang semakin mendesak. Diskusi ini ditutup dengan paparan peluang pengelolaan IPA Gambut skala kecil oleh BUMDes. Karena berdasarkan perhitungan bisnis pengelolaan IPA Gambut pendapatan yang diperolah dari penjualan air minum dalam kemasan galon mampu memberikan keuntungan yang cukup untuk menutup biaya operasional dan pengembalian investasi.