Slide 1

Berita PUPR > Architecture 4.0 : Oleh-oleh dari Perhelatan Indobuildtech 2019


Rabu, 21 Agustus 2019, Dilihat 123 kali

Architecture 4.0 : Oleh-oleh dari Perhelatan Indobuildtech 2019 Pameran Indonesia Building Technology Expo (Indobuildtech) 2019

JAKARTA - Mengusung tema “Architecture 4.0”, pameran Indonesia Building Technology Expo (Indobuildtech) 2019 kembali digelar kedua kalinya pada 21-25 Agustus 2019 di Jakarta Convention Center (JCC). Setelah sebelumnya diselenggarakan di International Convention Exhibition (ICE) BSD pada Maret lalu, pameran bahan bangunan dan interior ini bertujuan untuk memperkenalkan trend terbaru dalam dunia arsitektur dengan menggunakan teknologi modern (salah satunya yaitu Building Information Modeling/BIM), bahan bangunan/material terkini, serta permintaan tenaga kerja ahli/terampil dan “melek” teknologi yang semakin tinggi.

BIM telah menjadi trend teknologi konstruksi terkini. Beberapa negara seperti US, UK, Singapura, China, bahkan Vietnam dan Malaysia telah terlebih dahulu mewajibkan penggunaan BIM. BIM bukanlah sekedar gambar dalam bentuk 3D, tetapi lebih dari itu, BIM menawarkan sebuah cara baru dalam mengelola informasi terkait proyek konstruksi secara menyeluruh, sejak tahap perencanaan, perancangan, konstruksi, hingga operasi.

Adapun beberapa pandangan arsitek kawakan tanah air terhadap trend kedepan “Architecture 4.0” ini, yaitu antara lain :

  • Arsitek masih dituntut untuk memecahkan persoalan-persoalan kontemporer, seperti isu efisiensi lahan, sustainable design, dsb, dengan tetap memberikan “jiwa” dalam setiap karyanya (Yeriel Johan, Studio SAYA).
  • Irianto Purnomo Hadi (Antara Architect) berpendapat bahwa dalam waktu 10 tahun kedepan, desain akan sangat tergantung pada penggunaan software, dengan menekankan desain pada bentuk-bentuk organik.
  • Tony (Mat Architect) optimistis bahwa dalam waktu 10 tahun kedepan, dunia arsitek akan terintegrasi dengan dunia bisnis dan artificial intelligence (AI). Kedepan, arsitek akan menjadi “archipreneurs”, tidak perlu lagi menunggu proyek, tetapi justru menciptakan proyek, menciptakan start-ups pada skala komunitas untuk menangani persoalan sosial di masyarakat. Arsitek juga tidak akan lagi “bermain” pada segmen kelas menengah ke atas, tetapi harus menjadikan masyarakat grassroot sebagai klien. Masyarakat bisa menyewa jasa arsitek untuk mendesain rumah semudah membeli barang-barang secara online. Imbal jasa (fee) juga bisa segera ditransfer ke rekening arsitek. Rumah yang dibangun juga mampu diselesaikan dalam waktu singkat dalam hitungan hari karena penggunaan sistem modular seperti Lego.

Dalam hal pengembangan teknologi bahan bangunan (building materials), saat ini tidak lagi hanya berkutat soal design dan penampilan yang aesthetic. Para produsen dituntut untuk menciptakan produk yang handal, reliable, mudah dipasang (easy to install), ramah lingkungan, meningkatkan standar kualitas hidup dan keamanan penghuni, serta terkoneksi dengan informasi yang dipersyaratkan dalam BIM. Beberapa contohnya antara lain : Self-healing concrete adalah salah satu dari sekian banyak produk yang ramah lingkungan (secara biologis mampu memproduksi limestone untuk memperbaiki retak yang muncul pada permukaan beton). Sejenis bakteri tertentu dicampurkan dengan calcium lactate, nitrogen, dan phosphor, kemudian ditambahkan kedalam concrete. Self-healing concrete ini dapat tahan sampai dengan 200 tahun.

Selain itu, bangunesia.com merupakan portal business to business (B2B) yang menawarkan solusi mudah dalam bidang bangunan dan interior. Informasi yang terkandung di dalamnya cukup lengkap untuk masing-masing material bangunan, seperti misalnya: product details, photo gallery, technical documents, serta dealer/office bila customer tertarik untuk mendapatkan material tersebut.

Teknologi 3D Printing juga menjadi salah satu produk di era 4.0 karena mampu mengubah model desain 3D menjadi objek fisik, mereduksi cost tenaga kerja dan mempercepat waktu pengerjaan. Terkait pengembangan teknologi ini, Balitbang cq. Puslitbang KPT sedang menjajaki kolaborasi dengan PT. PP (Persero) Tbk dan perusahaan 3D Printing asal Belanda Cybe. Ujicoba pembuatan 3D Printed House juga sedang dipersiapkan bersama start-up company asal Yogyakarta.

Terkait “workforce 4.0”, seiring berubahnya tren industri konstruksi, tuntutan keahlian dan keterampilan tenaga kerja juga berubah, seperti misal : pengetahuan tentang teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan bekerja dengan data, kemampuan teknis sesuai bidang inti, dan personal skills (kemudahan beradaptasi, decision making skill, bekerja dalam tim, dsb).

Jika era teknologi sudah sedemikian pesat berkembang, maka sudah semestinya ASN Kementerian PUPR turut mengikuti dinamika perkembangan dengan aktif. Kolaborasi juga menjadi kata kunci agar sumberdaya dan kekuatan yang dimiliki masing-masing pelaku konstruksi/penyedia teknologi dapat lebih dioptimalkan. Merangkul start-up company, misalnya, dalam mengembangkan teknologi 4.0 untuk keperluan kemudahan konstruksi, dapat menjadi jalan keluar yang praktis agar teknologi lebih cepat dihasilkan (quick yield). (adj)