berita

Berita PUPR > Pulau Jawa Siaga Gempa 7 5 SR


Saturday, 02 Jul 2016, Dilihat 210 kali

Pulau Jawa Siaga Gempa 7 5 SR
 

 

Jakarta, Litbang.pu.go.id – Indonesia berada pada zona tektonik yang sangat aktif. Dengan adanya tiga lempeng utama dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya bertemu di wilayah Indonesia yang membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang kompleks, sehingga wilayah Indonesia rawan terhadap bencana gempa bumi.

Serangkaian kejadian gempa bumi yang menimpa berbagai daerah di Indonesia telah menimbulkan banyak kerugian. Seperti yang terjadi di gempa bumi dan tsunami  Aceh (2004), gempa bumi Jogja (2006), gempa bumi dan tsunami Pangandaran (2006), gempa bumi Tasikmalaya (2009), gempa bumi Padang (2009) dan gempa bumi dan tsunami Mentawai (2010).

Baru-baru ini para pakar dan peneliti gempa bumi menemukan sumber-sumber gempa bumi baru dengan potensi gempa yang cukup besar. Sumber-sumber gempa tersebut berupa sesar aktif atau patahan yang dihasilkan dari aksi gaya lempeng tektonik. Beberapa sesar ditemukan di Pulau Jawa, seperti sesar Kendeng di Jawa Timur, di Semarang dan di Lembang, Bandung serta sesar-sesar lain. Sesar-sesar ini sebelumnya belum terdeteksi pada peta gempa Indonesia 2010.

“Pegunungan Kendeng di tengah Pulau Jawa diindikasi sebagai sesar dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di acara Workshop Karakterisasi Sumber Gempa Baru untuk Updating Peta Gempa Indonesia 2016 di Hotel Ambhara, Jakarta (30/5).

 Ditemukannya sumber gempa baru ini juga diindikasi memiliki dampak yang lebih besar, karena lokasinya terdapat di daerah perkotaan yang padat penduduk. Seperti yang dikemukakan oleh pakar gempa bumi Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE, Ph.D. “Pegunungan Kendeng di Jawa Timur diindikasi sebagai sesar dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah berpotensi gempa sebesar 6,5 – 7,5 scala Richter”, jelasnya.

 Peneliti dari LIPI, Dr. Danny Hilman Natawidjaja juga mengatakan bahwa menurut penelitian terbaru ditemukan banyak jalur sesar aktif sangat dekat atau berada di wilayah perkotaan. “Ditemukan ada sesar besar di sepanjang Semarang, melintang dari barat ke timur melewati pelabuhan, lapangan udara dan masuk ke kota. Potensi gempanya bisa lebih dari 6,5 scala Richter”, ungkapnya.

 Ditemukannya sumber baru gempa ini diperlukan untuk segera melakukan updating peta gempa di Indonesia. Peta gempa yang berlaku saat ini dibuat tahun 2010, sehingga perlu dilakukan pemutahiran karena telah terjadi perkembangan data kegempaan di Indonesia. Salah satu perkembangan ilmu kegempaan di Indonesia telah mampu mengenali sumber-sumber gempa baru maupun lebih mengenali karakteristik sumber-sumber gempa baru yang sebelumnya telah ada.

Dalam rangka pemutahiran peta gempa bumi Indonesia 2016 serta dalam rangkaian kegiatan pusat studi gempa nasional, diselenggarakan workshop untuk mewadahi forum ilmiah dalam membahas lebih mendalam mengenai sumber-sumber gempa baru dengan para pemangku kepentingan dalam rangka pemutahiran peta gempa Indonesia 2016. Dalam workshop ini Kementerian PUPR bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), LIPI, Badan Informasi Geospasial, ITB dan peneliti dari Australia.

“Ke depan akan ada pembangunan infrastrusktur besar-besaran, kita ingin semua aman. Bukan gempanya yang benyak menimbulkan kerugian, tapi ketidaksiapan kita untuk menghadapi hal tersebut (gempa). Salah satunya adalah dengan perencanaan infrastruktur,” kata Kabalitbang PUPR Arie Setiadi menjelaskan mengenai pentingnya updating peta gempa.

Kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam dan meningkatnya frekuensi kejadian bencana memerlukan upaya antisipatif untuk mengurangi atau meminimalisir dampak kerugian ekonomi akibat bencana di masa mendatang. Updating sumber-sumber gempa bumi baru perlu dilakukan agar dapat memberikan solusi alternatif jangka pendek maupun jangka panjang dalam upaya membantu penanggulangan bencana. Setelah peta baru disusun kemudian akan diikuti oleh keluarnya Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk perencanaan bangunan tahan gempa yang baru.

Peta sumber gempa baru yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik sehingga akan berpengaruh terhadap penurunan indeks resiko bencana gempa bumi di Indonesia yang pengaruhnya akan terlihat dari menurunnya jumlah korban, jumlah kerusakan dan masyarakat terdampak.