berita

Berita PUPR > Standar Anyar Penguji Ketahanan Api


Monday, 06 Nov 2017, Dilihat 240 kali

Standar Anyar Penguji Ketahanan Api
 

Sebagai hasil revisi dari standar lama SNI 03-1747-2000, standar anyar SNI 1741:2008 digunakan untuk menguji tingkat ketahanan api (TKA) dari komponen - komponen struktur bangunan. Ini meliputi lantai, kolom, balok, atap, dan dinding bangunan yang dinyatakan dalam aspek stabilitas, integritas, dan insulasi terukur sebagai durasi dalam satuan waktu (digunakan menit).

Standar ini menggunakan istilah termokopel  jelajah atau roving thermocouple. Termokopel dengan desain khusus tersebut merupakan sambungan pengukur atau hot junction disolder atau dilas pada cakram tembaga yang digunakan untuk mengukur temperatur di titik-titik yang diduga terjadi pemanasan berlebihan atau hot spot  pada sisi permukaan benda uji yang tidak terekspos api. Sedangkan untuk istilah uji kalibarasi, yakni prosedur untuk menilai kondisi pengujian secara eksperimen.

Untuk melakukan uji ketahanan api, standar ini memerlukan peralatan yang terdiri dari tungku berdesain khusus, pengendali temperatur  tungku, peralatan untuk mengendalikan dan memonitor tekanan gas panas pada tungku, kerangka untuk tempat menegakkan benda uji, susunan untuk pembebanan dan pembatasan benda uji sesuai persyaratan, pengukur temperatur, dalam tungku dan sisi yang tidak kena panas pada benda uji, pengukur deformasi benda uji yang sesuai pernyataan, serta alat untuk mengevaluasi integritas benda uji dan membandingkannya dengan kriteria kinerja yang disyaratkan dan juga lama waktu pengujian.

Adapun untuk tungku, bahanpelapisnya atau lining harus terbuat dari bahan dengan densitas kurang dari 1.000kg/m, ketebalan minimum 50mm, dan minimal terdiri dari 70% permukaan dalam tungku yang terekspos. Sedangkan peralatan pembebanan, disyaratkan untuk mampu memberikan pembebanan terhadap benda uji yang dapat diterapkan secara hidrolik, mekanik ataupun menggunakan pemberat.

Selain itu, terdapat juga instrumentasi untuk mengukur temperatur yang memerlukan beberapa jenis termokopel, mengukur tekanan dalam tungku dengan manometer, serta untuk mengukur beban uji, deformasi (pengukuran defleksi, ekspansi, kontraksi), dan integritas. ditambah lagi, akurasi peralatan pengukur juga ditentukan harus memenuhi tingkat akurasi yang disyaratkan.

Sementara itu laporan pengujian sendiri menyajikan detail konstruksi, kondisi-kondisi pengujian , dan hasil yang diperoleh ketika suatu unsur spesifik konstruksi telah diuji mengikuti prosedur yang ditetapkan pada SNI. Adapun penyimpangan signifikan dengan ukuran, detail konstruksional, pembebanan, tekanan, konidsi-kondisi batas, maka dapat membuat hasil pengujian tidak berlaku. Standar juga melampirkan daftar simbol yang bersifat informatif, misalnya penjelasan tentang pepenempatan termokopel yang dijelaskan lebih detail dalam bentuk gambar. sedangkan lampiran untuk jenis benda uji, diberikan secara informatif saja untuk dimensi benda uji tersebut. Alhasil, standar ini memang digunakan sebagai panduan dalam melakukan pengujian ketahanan api struktur bangunan yang diperuntukkan kepada pihak-pihak yang berkrprntingan. meskipun ada penyebab lain yang dapat memicu terjadinya kebakaran, namun dengan menggunakan komponen struktur bangunan yang lolos uji tersebut sejatinya merupakan bentuk upaya pencegahan terjadinya bahaya kebakaran pada bangunan dan gedung.