berita

Berita PUPR > Kunjungan Kerja Direktorat Rumah Umum dan Komersial ke Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman


Friday, 12 Oct 2018, Dilihat 237 kali

Kunjungan Kerja Direktorat Rumah Umum dan Komersial ke Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman
 

Anggota Direktorat RUK dan Asabri melakukan kunjungan kerja ke Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Kunjungan ini dilaksankan pada hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2018 di Kantor Puskim Cileunyi Bandung. Kunjungan diterima oleh Kasi Balai Litbang Tata Bangunan dan Lingkungan Yuri Hermawan mewakili Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman.

Kunjungan ini dalam rangka perencanaan pembangunan rumah untuk instansi TNI di Kabupaten Serang Provinsi Banten dan pihak Asabri beserta asosiasi di bidang Perumahan ingin memperoleh informasi terkait pembangunan dengan menggunakan teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Kegiatan kunjungan kerja ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama Sebelum diskusi dimulai, anggota Direktorat RUK dan Asabri diperkenalkan terkait teknologi rumah pracetak. Sesi kedua yaitu diskusi yang dipimpin oleh Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Arief Sabaruddin menyampaikan bahawa di Lombok itu kita membuka tiga alternatif yaitu RISHA, Konvensional Tembok dan Konvensional Kayu. “Kalau saya melihat sebagai momentum mengubah mindset bahwa rumah itu, gempa yang melanda kita itu yang mengakibatkan korban itu bukan gempanya. Karna strukturnya gitu. Karena momentum yang baik pembelajaran buat masyarakat kalau strukturnya sudah dirancang dengan gempa, mau konvensional, RISHA, mau apapun mestinya tidak sebanyak kemarin gitu ya. Karna gempa-gempa di Jepang juga sudah lebih sering dibandingkan seperti di kita tapi tidak memakan korban sebanyak kita dengan intensitas yang sama, karna mereka sudah siap sudah melakukan tindakan prefentive dalam perencanaannya. Nah, kita belum,” ungkapnya

Sekarang ini momentum semua orang dengan adanya gempa yang sudah terjadi di Lombok dan Palu, mulai kesadarannya tumbuh bahwa aspek struktur itu penting dan aspek keselamatan itu penting. “Bahkan sekarang setelah gempa Palu, orang berpikirnya tata ruang penting, orang mulai berpikir sekarang yang tinggal di patahan Lembang, orang sudah mulai sadar yang tinggal di puncak-puncak bangun kawasan di puncak, karena merusak tata ruang itu sama dengan berpotensi mendekatkan ke bencana. Justru disini jadi kesempatan gak bisa kita main-main dengan kualitas, gak bisa kita ngurangi dimensi tulangan, gak bisa kita ngurangin mutu beton, gak bisa kita mengabaikan standar ini adalah momentum yang baik. Ketika kita bicara desain konvensional yang standar yang SNI teknologi ini harganya menang, lebih murah, lebih cepat dan ini bisa dikerjakan oleh masyarakat awam. Tidak perlu kualifikasi yang tinggi, bahkan sekarang dikerjakan oleh Waskita, WIKA, Adhi Karya dan segala macam ini mereka kewalahan juga karna teknologinya berbasis pada masyarakat,” kata Arief Sabaruddin.

                                                              Kunjungan Kerja Direktorat Rumah Umum dan Komersial ke Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman

Termasuk di Lombok kemarin ini kenapa juga Pak Presiden menyarankan memakai teknologi RISHA, karena Pak Menteri PU melaporkan di Bayan daerah Lombok Utara masih aman masih baik. “Dan ini sudah teruji waktu gempa Pidie itu kan kita survey, kita masih menemukan peninggalannya tsunami yang kita bangun dan itu seluruh bangunanannya rumah sementara yang kita bangun itu, tapi masih berdiri. Bukan bangunan yang permanennya. Kita masih menemukan bangunan-bangunan sementara yang masih terpelihara, jadi di Pidie sudah teruji,” ujar Arief Sabaruddin.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling melihat rumah contoh RISHA yang didampingi oleh Kasi Penelitian dan Pengembangan Yuri Hermawan. (Ofi/Putri)