berita

Berita PUPR > Diseminasi Peta Gempa 2017 dan Penerapan SNI Bangunan Tahan Gempa di Medan


Friday, 26 Apr 2019, Dilihat 204 kali

Diseminasi Peta Gempa 2017 dan Penerapan SNI Bangunan Tahan Gempa di Medan
 

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik yang menyebabkan wilayah ini memiliki tingkat kegempaan yang sangat tinggi. Pada beberapa tahun terakhir ini bencana alam akibat gempa bumi makin sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa serta kerusakan bangunan. Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman bekerjasama dengan PUSGEN, HATTI (Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia), dan Universitas Santo Thomas mengadakan Diseminasi dan Sosialisasi Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 dan Penerapan SNI Bidang Bahan, Struktur, dan Konstruksi Bangunan pada Perencanaan Struktur Gedung (Bangunan Tahan Gempa). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 -24 April 2019 di Hotel Grand Mercure Medan Angkasa Kota Medan Sumatera Utara. 

Kementerian PUPR menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kegiatan mitigasi bencana sesuai dengan tugas pokok utamanya yaitu melakukan mitigasi pra bencana. Hal ini dilakukan dengan cara membangun infrastruktur bangunan yang lebih aman terhadap bencana sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Untuk mewujudkan hal tersebut, di dalam kegiatan diseminasi ini, juga dijelaskan terkait revisi SNI 1726:2012, 1727:2013, dan 2847:2013. 

Rangkaian kegiatan diseminasi dibuka dengan sambutan dari Rektor Unika St Thomas yaitu Frietz R. Tambunan dan Kepala Bidang Standard an Diseminasi Puskim Lutfi Faizal mewakili Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Frietz R. Tambunan menyampaikan bahwa disaster crisis prediction harus sudah disiapkan oleh generasi saat ini. Hal tersebut unutk mengurangi resiko bencana yang akan terjadi. Masyarakat lebih siap jika bencana gempa bumi terjadi.

Kementerian PUPR sejak tahun 2015 hingga 2019 telah banyak membangun infrastruktur di Indonesia. Sesuai dengan target pembangunan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia naik ke peringkat 40. “Indonesia saat ini sudah terkepung oleh gempa. Bukan hanya di Indonesia tetapi 90% belahan dunia lainnya juga mengalami. Menyadari hal tersebut, kami mengupayakan pencegahan untuk menyelamatkan infrastruktur kita, ” ungkap Lutfi Faizal. Kerusakan bangunan bukan disebabkan oleh 

Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) pada tahun lalu telah mengeluarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. “Setelah adanya peta tersebut, kami melakukan verifikasi gempa – gempa yang terjadi saat ini. Setelah peta gempa diperbaharui, standar terkait konstruksi harus segera disiapkan. Tiga standar utama yang sangat diperlukan sudah selesai,” tambahnya. 

Kerusakan bangunan saat terjadinya gempa bukan hanya disebabkan oleh standar perencanaan yang kurang, tetapi kesalahan atau kelalaian dilapangan oleh pelaksana konstruksi sangat menentukan. Standar sangat penting tetapi jika tidak diterapkan akan sangat merugikan. Pemerintah terus berupaya memberikan pemahaman kepada pelaku konstruksi. Setiap pelaku wajib memiliki sertifikasi keahlian. ini adalah salah satu bentuk penjamin keamanan konstruksi.  

Di dalam kegiatan tersebut, para pemateri yang menyampaikan paparan merupakan para ahli dibidangnya, yaitu Lutfi Faizal menjelaskan tentang pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa dan standar SNI konstruksi terkait. Masyhur Irsyam menjelaskan tentang Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017, perkembangan, aplikasi untuk perancangan struktur dan infrastruktur tahan gempa Indonesia. Djoni Simanta menjelaskan tentang SNI 1727 (beban minimum) dan SNI 1726:2012 (perencanaan struktur atas untuk infrastruktur dan bangunan tahan gempa). Andhika Sahadewa menjelaskan tentang SNI 1726:2012 (geoteknik dalam perencanaan struktur bawah untuk infrastruktur dan bangunan tahan gempa), dan Steffie Tumilar menjelaskan tentang SNI 2847 (persyaratan beton struktur untuk gedung).

 

Tonton full di youtube @puskimpupr http://bit.ly/diseminasimedan2019