berita

Berita PUPR > Model Pengembangan Permukiman Honai Di Papua


Friday, 27 Sep 2019, Dilihat 205 kali

Model Pengembangan Permukiman Honai Di Papua
 

Judul Buku     : Model Pengembangan Permukiman Honai Di Papua

Penyusun       : Sugeng Paryanto, Miftah Priyanto, Petra Putra Kaloeti, Andi Dibya 

                           Widadi N, Djasmihul ashary, Herru Soemardijono, Alberthin Siramopun,

                           Syaharulaah Yunus, Satriana Amin, Ika Sugiarti, Kevin Aditya Giovanni

Penebit           : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perumahan & Permukiman

Tahun             : 2018

Download       : Buku Output 2018 Penelitian-Honai-R1 

 

Materi Narasi

 

Penelitian dilanjutkan pada tahun 2006, ketika pengetahuan dan cara hidup masyarakat telah lebih berkembang dan sarana prasarana PU mulai dibangun sampai ke desa-desa. Pada daerah pedesaan yang letaknya dekat atau berbatasan dengan kota, informasi lebih mudah disampaikan kepada masyarakat karena masyarakat telah mampu berkomunikasi dalam bahasa nasional. Hasil tahun 2006 adalah model honai menuju sehat (homese) dan model honai sehat (hose). Konsep utama model honai sehat adalah menangani masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh asap. Dasar utama model tersebut adalah meningkatkan kesehatan penghuni melalui rancangan teknis bangunan tanpa merusak adat istiadat berhuni dan budaya bermukim. Pertimbangan penanganan masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat asap adalah bahwa hunian masyarakat terpencil di pegunungan biasanya membuat tungku pembakaran di tengah rumah untuk mendapatkan kehangatan ruangan. Denah rumah berbentuk bulat, tidak berjendela mengakibatkan asap yang ditimbulkan oleh pembakaran dalam rumah yang sempit dan tidak berventilasi ini tetap tetap berada dalam ruang. Akibat menghirup asap secara terus menerus, maka hal tersebut telah mengakibatkan penghuni menderita penyakit pernafasan, atau infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Pada sisi lain asap dibutuhkan untuk pengawet bahan bangunan, mengusir nyamuk serta serangga perusak lain.

Dari penelitian tahun 2006 ini juga diperoleh temuan bahwa keragaman bentuk maupun penggunaan bahan bangunan sangat dipengaruhi oleh kondisi lokus dan ketentuan aturan dalam tiap kelompok suku. Mengingat kondisi tersebut, maka model honai sehat harus fleksibel, dapat diterapkan pada berbagai ukuran dan bentuk maupun bahan bangunan yang tersedia, tanpa melupakan tradisi dan budaya masyarakatnya. Menyikapi hal itu, model honai sehat yang cocok adalah model generik, dimana pengaliran asap dialirkan melalui layer horisontal dan dialirkan keluar. Model ini merupakan inovasi penanganan aliran asap, mengingat selama ini cara yang digunakan dalam mengalirkan asap adalah dengan cara membuat cerobong vertikal yang menembus atap. Kelebihan lain dari model generik ini adalah keleluasaan penggunaan ruang tidur di lantai atap, serta kemudahan untuk diterapkan pada berbagai dimensi dan bentuk honai, serta mampu dibentuk dengan berbagai bahan bangunan yang tersedia secara alami. Model honai sehat telah dibangun di Desa Walesi Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua, dan bangunan ini telah digunakan oleh masyarakat setempat pada tahun 2009. Hasil penelitian adalah dengan membuat jendela untuk membentuk ventilasi silang bukaan pintu yang cukup, dan pencahayaan. Sirkulasi asap yang selalu berputar di ruangan menyebabkan gangguan pada pernafasan. Untuk mengatasi hal itu, maka asap dialirkan melalui cerobong ke ruang kosong yang terletak antara lantai dua dengan plafon dan dialirkan keluar melalui lubang-lubang ventilasi. Dengan cara ini diharapkan asap dapat mengalir keluar dan udara dingin tidak mengalir ke dalam.

Permasalahan yang muncul menurut masyarakat jendela tidak diperlukan karena masyarakat beraktifitas di kebun pada siang hari akan tetapi berdasarkan peraturan rumah sehat, rumah harus mempunyai bukaan dan pencahayaan. Pada kenyataannya setelah pintu dibuka terjadi turbulensi dan asap berputar-putar di ruangan sehingga perlu penanganan kembali terhadap kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alternatif model hose berikut kriteria-kriteria penentu yang berpengaruh terhadap pengembangan dan perubahan model hose, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat di permukiman Suku Dani. Penerima Manfaat- Manfaat dari kegiatan ini adalah sebagai rekomendasi untuk perbaikan model honai yang lebih sehat, sesuai dengan kondisi geografis dan budaya masyarakat suku Dani.