berita

Berita PUPR > Pengolahan Air Laut Terintegrasi di Kawasan Permukiman Terpencil


Friday, 27 Sep 2019, Dilihat 64 kali

Pengolahan Air Laut Terintegrasi di Kawasan Permukiman Terpencil
 

Judul Buku     : Pengolahan Air Laut Terintegrasi di Kawasan Permukiman Terpencil

Penyusun       : Haryo Budi Guruminda, Fitrijani Anggraini, Elis Hastuti

Penebit           : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perumahan & Permukiman

Tahun             : 2018

Download       : Buku Output 2018 Penelitian-Air Laut 

 

Materi Narasi

 

  Puslitbang Perumahan dan Permukiman pada tahun 2018 telah melakukan studi terkait teknologi pengolahan air laut terintegrasi di kawasan permukiman terpencil. Uji coba prototipe pengolahan air laut dilakukan di Gili Labak, Kabupaten Sumenep. Sedangkan studi karakteristik penyediaan air masyarakat kepulauan dilakukan di Gili Labak, Kabupaten Sumenep, Pulau Untung Jawa, DKI Jakarta dan Pulau Semparong Nusa Tenggara Timur. Hasil studi menunjukkan masyarakat kepulauan memiliki tipologi karakteristik yang sama. Tipologi masyarakat kepulauan umumnya berprofesi sebagai nelayan. Masyarakat yang tinggal dipulau sebelumnya memiliki sumber air tawar dan seiring dengan waktu kehilangan air tawarnya. Perubahan salinitas air tawar umumnya disebabkan kenaikan muka air laut yang menekan akifer air tawar, konsumsi air yang meningkat dan perubahan tataguna lahan. Sumber air laut di pulau terpencil ada 3 yaitu: air hujan, air laut, dan air tanah. Saat ini hanya ada 2 buah pengolahan air laut yang dikenal di Indonesia, yaitu membran reserve osmosis air laut dan distilator kaca. Membran reserve osmosis merupakan teknologi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Hasil kajian di Pulau Untung Jawa menunjukkan teknologi membran reserve osmosis membutuhkan biaya investasi dan operasional yang tinggi. Biaya teknologi membran reserve osmosis di pasaran untuk kapasitas 0.5 m3/jam sangat bervariasi di lapangan. Dimulai dari biaya modal Rp. 200.000.000,- hingga Rp. 2.000.000.000,- (harga hanya instalasi saja tidak termasuk sumber listrik).

   Teknologi ini menggunakan prinsip distilasi dalam mengolah air laut. Air laut dipompakan oleh pompa air tenaga matahari kedalam air distilator secara merata. Air yang ada dalam dasar plat distilator kemudian menguap akibat radiasi matahari. Air yang menguap ini akan menempel pada kaca bagian atas distilator dan mengalami pendinginan (kondensasi). Setelah terbentuk butiran air pada dinding kaca air akan menjadi berat dan turun kebagian bawah kaca. Air yang turun kebawah kaca ini kemudian dikumpulkan dan menjadi sumber air minum. Teknologi ini dapat menurunkan biaya operasional hingga Rp. 10.000/m3. Penerapan sistem penyediaan air minum di pulau terpencil yang dapat dilaksanakan dari segi kinerja, kemampuan teknis, layanan, biaya, kebijakan, lingkungan.

Penelitian dilakukan sebagai berikut:

  • Pembelajaran terhadap teknologi eksisting yang sudah dibuat dan dilakukan analisa teknis, operasional dan biaya untuk dapat memahami teknologi secara baik dan mengidentifikasi kapasitas faktor dari teknologi tersebut.
  • Penelitan sosial secara kualitatif dilakukan kepada masyarakat Pulau Gili Labak dan beberapa komparasi masyarakat sejenisnya, dalam rangka upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kemampuan masyarakat dari segi teknis dan biaya, dan faktor kapasitas lainnya.
  • Identifikasi terhadap kemungkinan yang terjadi dimasa depan difokuskan pada empat faktor utama, yaitu kebijakan, lingkungan, kemampuan masyarakat dan teknologi. Empat faktor ini diperoleh berdasarkan hasil diskusi panel yang dilakukan beberapa kali dengan para stakeholders. Identifikasi dilakukan dengan cara diskusi panel, wawancara dengan stakeholders, wawancara dengan narasumber, dan coding data dari literatur.

  Dari hasil permasalahan yang diidentifikasi kemudian dikelompokkan menjadi 3 faktor utama, yaitu teknis, biaya, dan sosial. Permasalah teknis berusaha dipecahkan dengan menggunakan kemungkinan teknologi baru yang paling optimum sesuai dengan ketersediaan material dan ilmu pengetahuan terkini. Seringkali permasalahan sosial terjadi akibat kurangnya pengetahuan atau komunikasi, sehingga permasalahan sosial berusaha dipecahkan dengan melakukan kajian dan alih ilmu pengetahuan sehingga para stakeholders dapat membuat keputusan dengan tepat. Produksi air ini bergantung pada lokasi, intensitas cahaya matahari dan posisi matahari. Penerapan Teknologi belum mampu memenuhi debit rencana dan masih perlu dikembangkan dikarenakan perlu adanya peningkatan spesifikasi material untuk mengadaptasi cuaca panas yang ekstrim didaerah pulau terpencil.