berita

Berita PUPR > Workshop Nasional Asesmen dan Mitigasi terhadap Bencana Likuifaksi


Thursday, 10 Oct 2019, Dilihat 351 kali

Workshop Nasional Asesmen dan Mitigasi terhadap Bencana Likuifaksi
 

Workshop ini merupakan rangkaian kegiatan dari BAPPENAS bekerjasama dengan Kementerian PUPR, PUSGEN, JICA, HATTI, dan Universitas Indonesia.
 
Dalam pidato sambutan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Dr.Ir.Hendri Dwi Saptioratri Budiono, M.Eng., mengatakan bahwa “It is difficult to predict incident like in Palu, but if that happens again, hopefully we will be better prepared”.
 
Kepala Badan Litbang PUPR, Ir. Lukman Hakim, M.Sc. menyampaikan dalam pidato sambutannya bahwa Indonesia yang dikelilingi oleh lingkaran api dari empat lempeng utama yaitu Eurasia, Indo-Australia,Laut Filipina,dan Pasifik diperkirakan memiliki potensi kebencanaan sangat tinggi yang susah untuk di prediksi namun bisa di mitigasi. Sebagai hasil peluncuran buku Peta Sumber Bahaya Gempa tahun 2017, sumber gempa meningkat dari 53 sesar aktif di tahun 2010 menjadi 295 sesar aktif di tahun 2017. Tentunya ada penambahan sesar baru di tahun 2019 pada peta tersebut yang akan dirancang kembali oleh Tim PUSGEN. Berdasarkan gempa Palu 2018 telah dilakukan tindakan mitigasi bencana yang menyeluruh dan sistematis untuk mengurangi dampak bencana tersebut. Kementerian PUPR melakukan serangkaian kegiatan guna mengurangi resiko bencana dari mulai Perencanaan, Pembangunan, dan Pengelolaan.
 
Ir. Kennedy Simanjuntak,MA. (BAPPENAS) dalam pidatonya menyampaikan bahwa kejadian bencana di Sulawesi Tengah adalah hal yang luar biasa dan akan terus dipelajari untuk dapat menangani bencana dengan dilakukannya penyusunan Program Penanganan Bencana dan juga benguk Streaming-nya sehingga semua sektor akan dapat memperhatikan. Pelajaran pertama adalah terbentuk Kesadaran dan Pemahanan terhadap resiko dan Kedua adalah Kemauan untuk berinvestasi dan berinterPrestasi dalam menangani potensi resiko.
 
Dandung Sri Harninto, ST.,MT. sebagai perwakilan dari Universitas Indonesia menjabarkan dalam wawancaranya bahwa Kebutuhan rekonstruksi setelah gempa Palu 2018 dan daerah lainnya adalah sangat mendesak, forum ini bertujuan dalam merangkul ahli-ahli yang sudah biasa melakukan FGD (focus group disccussion) agar tercipta panel ahli yang akan mereviu setiap kebijakan dan engineer advice khususnya terhadap bencana likuefaksi yang mana bencana di Palu adalah extraordinary yang artinya tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara standar sesuai textbook. Bahkan hal ini disebut sebagai “beyond liquefaction” atau NALODO yang tentunya tidak bisa dilakukan penanganan yang sama dengan cara-cara negara lain. Di Indonesia saja belum ada mitigasi likuefaksi standar apalagi untuk yang extraordinary likuefaksi. Harapan dari forum ini agar kedepannya pembahasan lebih terarah dan terfokus terhadap konsep pembangunanya yang juag berkaitan dengan penangan perairan, pangan, jalan dan jembatan. Konsepnya tidak hanya “bangun jadi” tapi lebih ke arah “Build Back Better” untuk generasi mendatang. Selanjutnya akan ada panel lanjutan yang dihadiri oleh panelis-panelis inti untuk menghasilkan regulasi, aturan, ataupun standar bagaimana membangun infrastruktur yang resilent terhadap bencana likuefaksi. Dan akan mempercepat rencana pendirian NALODO INFORMATION CENTER.
 
Dalam kesempatan wawancara yang dilakukan kepada Prof. Kenji Ishira dari JICA beliau sangat berharap agar pusat NALODO akan lebih stabil dan segala bentuk aktivitas yang dilakukan di pusat NALODO tersebut dapat ditangani dengan cara-cara yang tepat, juga agar dari riset Ini dapat menghasilkan produk-produk teknis dan ilmiah yang bermanfaat tidak hanya bagi Indonesia tapi juga negara lain yang rawan bencana.
 
Dalam wawancara terhadap Prof. Masyhur Irsyam (PUSGEN/ITB), dijelaskan bahwa workshop ini merupakan kolaborasi internasional untuk riset mitigasi. Tujuan objektif dari forum ini adalah agar dapat melakukan penelitian bersama dalam negeri maupun luar negeri, mengundang ahli-ahli dari Jepang yang terbaik dan mengumpulkan para ahli dari Indonesia yang di fasilitasi oleh BAPPENAS dan Kementerian PUPR. Ini adalah program yang cukup panjang dan workshop ini adalah yang pertama, mengingat kita memiliki laboratorium yang paling lengkap maka diharapkan keterlibatan peneliti Indonesia dalam riset ini. Hasil dari penelitian ini diimplementasikan dalam rekonstruksi Palu juga berupa Standar dan Manual. Palu adalah sebagai contoh lokasi likuefaksi yang dipelajari untuk daerah lain yang terkena bencana dan rawan likuefaksi.
 
Pertemuan ini ditutup oleh statement dari Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman, Ir. Dian Irawati, MT, yang mengatakan bahwa “Puskim akan sangat menyambut setiap bentuk kerjasama riset untuk kasus-kasus darurat dan strategis. (Ayu Ferina).
 
Sambutan Ka Puskim pada Workshop pemeriksaan dan mitigasi bencana likuifaksi   Narasumber Workshop pemeriksaan dan mitigasi bencana likuifaksi 

 

Peserta Workshop pemeriksaan dan mitigasi bencana likuifaksi