berita

Berita PUPR > TRAINING OF TRAINERS (ToT) TEKNIK AUDIT BANGUNAN PASCA BENCANA GEMPA


Wednesday, 18 Dec 2019, Dilihat 1302 kali

TRAINING OF TRAINERS (ToT) TEKNIK AUDIT BANGUNAN PASCA BENCANA GEMPA
 

Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman melaksanakan Training of Trainers (ToT) Teknik Audit Bangunan Pasca Bencana Gempa. Kegiatan dilaksanakan tanggal 16 – 17 Desember 2019 bertempat di Mason Pine Hotel Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Program dan Evaluasi Kuswara mewakili Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Pelaksanaan ToT ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dalam mengaudit bangunan pasca bencana gempa. Sehingga diharapkan terciptanya para tenaga ahli audit bidang kebencanaan.

Kegiatan yang dihadiri oleh para peneliti dan perekayasa bidang bangunan gedung dari Balai Litbang di lingkungan Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman maupun Balai Perumahan Wilayah I, II, dan III ini secara umum terbagi menjadi dua sesi yaitu pemaparan materi dan diskusi kelompok hasil pembelajaran.

Para peserta mendapatkan pemaparan tentang Evaluasi Advis Teknis Audit Bangunan Pasca Bencana Gempa oleh Kepala Balai Litbang Bahan dan Struktur Bangunan Ferri Eka Putra; penjelasan Teknik Audit Bangunan Pasca/Pra Gempa, latihan Teknik Audit Bangunan Tahan Gempa, Penyusunan Model Audit oleh Iswandi Imran dari ITB; serta pemaparan perbaikan/ Perkuatan/ Retrofit Bangunan Pasca Bencana Gempa dan Teknik dan Metoda Strengthening pada Bangunan Pasca Gempa oleh Aryantho dari ITB.

Kegiatan ini sebagai bentuk tindak lanjut kegiatan Pusat Studi Kegempaan dalam mendukung program percepatan pemulihan pasca bencana gempa. Asesmen bangunan gedung pasca gempa seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Rangkaian gempa susulan yang terjadi menyebabkan data kerusakan bangunan gedung dapat berubah. Definisi kerusakan serta SDM pemeriksa bangunan gedung pasca gempa yang belum sama, menyebabkan hasil pemeriksaan oleh pihak-pihak terkait seringkali berbeda, baik jumlah bangunan yang rusak maupun tipikal kerusakannya.

Perbedaan data tersebut pada akhirnya memperlambat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa. Untuk itu, penyamaan metode, klasifikasi serta definisi kerusakan bangunan gedung pasca gempa perlu dilakukan, untuk meminimalisir perbedaan di antara pihak-pihak terkait dengan bangunan gedung maupun SDM yang akan melaksanakan pemeriksaan/ asesmen, dan pada akhirnya dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.