berita

Berita PUPR > Puskim turut berpartisipasi dalam Webinar Pengolahan Sampah dan Limbah Perkotaan dengan Teknik Komposting Amazon Terra Preta Sanitation


Thursday, 02 Jul 2020, Dilihat 178 kali

Puskim turut berpartisipasi dalam Webinar Pengolahan Sampah dan Limbah Perkotaan dengan Teknik Komposting Amazon Terra Preta Sanitation
 

Balai Litbang Perumahan Wilayah I Medan mewakili Puskim (telah berganti menjadi Bina Teknik Permukiman dan Perumahan) untuk berpartisipasi dalam Webinar Pengolahan Sampah dan Limbah Perkotaan dengan Teknik Komposting Amazon Kuno Terra Preta Sanitation dan Manfaatnya bagi Industri Pertanian Indonesia. Webinar yang dilaksanakan pada 22 Juni 2020 via video conference Zoom terselenggara atas kerjasama Balai Litbang Perumahan Wilayah I Medan dan Gardhika Khatulistiwa PK 159 LPDPRI.

Di dalam webinar ini terdapat tiga pemateri yaitu Nurul Hidayah (Monash University) memaparkan tentang Intro Kompos dan Biochar; Haryo Budi Guruminda (Puskim) memaparkan tentang Pengelolaan Sampah dan Limbah Perkotaan dengan Konsep Terra Preta Amazon Kuno; Rahmah Farahdita S (IPB) memaparkan tentang Potensi Bio Industri, Kondisi dan Manfaat Limbah Organik; dan dipandu moderator Sri Wahyuni Handayani (Universitas Andalas).

Perwakilan Puskim Haryo Budi Guruminda menyampaikan bahwa tugas Kementerian PUPR salah satunya adalah menangani sampah dan limbah di perkotaan. Di dalam paparannya ia mengatakan bahwa pengelolaan sampah di masyarakat sudah menggunakan sistem TPS dan dibuang di TPA. Di TPS sudah melakukan pengomposan tetapi langsung dibuang ke TPA, “fungsi pengomposan jadi tidak termanfaatkan, fungsinya hanya untuk mengurangi jumlah timbunan sampah yang dihasilkan,” jelasnya. Selain itu kendala yang terjadi di masyarakat adalah mahalnya biaya pengelolaan TPS, 100 – 500 ribu rupiah untuk mengelola sampah/ton. Supaya tidak mangkrak, biaya operasional TPS sering disubsidi oleh pemerintah. Limbah yang dihasilkan banyak yang belum termanfaatkan dengan baik termasuk limbah biomasa perkotaan (biochar source).

“Sumatera Utara terkenal dengan industri kelapa sawit, banyak sekali limbah kelapa sawit yang tidak termanfaatkan. Petani hanya mengambil buahnya saja. Batangnya dibiarkan begitu saja padahal ini bisa menjadi sumber biochar,” kata Haryo. Perbedaan membuat kompos biochar dengan terra preta amazon kuno adalah durasinya sehingga bisa membentuk tanah hitam seperti di amazon. Terra preta merupakan tanah buatan yang banyak mengandung senyawa karbon dengan kadar 20 kali lebih tinggi dibandingkan tanah mineral lainnya serta mengandung kadar nitrogen dan fosfor 3 kali lebih tinggi.

Webinar yang berlangsung selama satu jam ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan para peserta. Video webinar dapat dilihat melalui link https://bit.ly/3jjjgGB